Kota Bandung, di zaman pemerintahan Hindia Belanda, sempat direncanakan sebagai Pusat Pemerintahan, sedangkan Batavia (Jakarta) menjadi Pusat Perdagangan dengan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan utama. Jalur kereta api dan stasiun kereta api merupakan ikon pusat transportasi penting untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi dan teh dari Priangan ke Batavia (Jakarta).
Saya mengenal kota Bandung sejak kuliah di sini, kemudian setelah menikah pun ikut suami yang bekerja di Bandung. Walaupun bukan asli orang Sunda, begitupun suami, kami sudah melekat dengan kota Bandung. Semakin lama di sini, semakin betah, karena sudah engga tahu juga mau ke mana lagi.
Beruntungnya tinggal di Bandung, kota yang sarat dengan kisah sejarah, terutama sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda hingga kemerdekaan Republik Indonesia.
Daftar Isi
Stasiun Bandung



Nah, di kota Bandung terdapat Stasiun Bandung sudah ada sejak 17 Mei 1884, diresmikan oleh perusahaan kereta api Belanda Staatsspoorwegen (SS) setelah jalur kereta api Cianjur-Bandung dibuka. Jejak bangunan lama Stasiun Bandung masih berfungsi di bagian selatan Stasiun Bandung, yaitu untuk pintu masuk perjalanan commuter atau KRD.
Di Bandung, kalau mau naik kereta api ada dua pilihan moda, yaitu Kereta Api Antar Kota (jarak jauh) dan Kereta Lokal.
Ada beberapa stasiun pemberhentian di kota Bandung, tergantung kalian naik kereta jarak jauh atau kereta lokal (KRD).
Asyiknya naik kereta api, tentu saja bebas macet, dan boleh dibilang tepat waktu. Kecuali ada kejadian force mayeur di perjalanan, misalnya banjir, longsor, kereta anjlok, dan lain-lain.
Naik kereta api bukan sekadar berpindah tempat, tetapi tentang menikmati perjalanan. Di Indonesia, jalur kereta api menawarkan pemandangan yang tidak bisa didapatkan lewat jalan tol atau pesawat.
Spot terkenal perjalanan Jakarta-Bandung, adalah ketika melewati Jembatan Cisomang, yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Kemudian ketika masuk terowongan Sasaksaat, yang konon terowongan terpanjang dan dilalui naik KA selama dua menit.
Sejak adanya kereta cepat Whoosh, maka Stasiun Bandung menjadi titik keberangkatan kereta feeder yang membawa penumpang dari Bandung menuju Stasiun Padalarang.


Stasiun Gambir dan Jatinegara
Sebelum menetap di Bandung, saya tinggal bersama orang tua di Jakarta, maka kalau pulang liburan, seringnya naik kereta api.
Naik dari Stasiun Bandung, kemudian turun di Stasiun Jatinegara, karena rumah kami di belakang stasiun. Biasanya naik bajaj mangkal depan stasiun atau mikrolet yang rutenya lewat tak jauh dari rumah.
Stasiun Jatinegara dulu dikenal dengan nama Stasiun Meester Cornelis, stasiun ini adalah gerbang masuk utama kereta api dari arah Timur (Jawa Tengah/Jawa Timur) menuju Jakarta.

Bangunan lamanya merupakan karya arsitek Belanda, S. Snuyff, dengan ciri khas jendela besar dan atap tinggi untuk sirkulasi udara. Bangunan lama masih dipertahankan tetapi tidak digunakan sebagai bangunan utama, karena sirkulasi utama sudah dipindahkan ke bangunan baru di belakangnya.


untuk pindah platform atau menuju pintu ke luar harus naik-turun escalator
Kalau dulu zaman kuliah, saya bisa juga naik dari Stasiun Jatinegara kalau mau kembali ke Bandung. Sekarang sudah tidak bisa lagi, kita harus naik dari Stasiun Gambir, di Jakarta Pusat.
Stasiun Gambir pada masa Hindia Belanda, nama stasiun ini adalah Stasiun Weltevreden, yang kemudian berganti nama menjadi Stasiun Batavia Koningsplein setelah dilakukan perbaikan pada dasawarsa 1930-an.
Stasiun ini mengalami beberapa kali renovasi dan menjadi stasiun kereta api kelas besar tipe A dan kereta commuter line tidak berhenti di sini.
Selain itu di stasiun ini ada fasilitas kamar mandi dan loker eksklusif untuk para penumpang kereta api yang hendak mandi setelah kereta api sampai di tujuan.
Stasiun Halim
Berbeda dengan stasiun-stasiun di Indonesia lainnya yang kental dengan nuansa kolonial dan sejarah panjang, Stasiun Halim adalah simbol modernitas dan masa depan transportasi Indonesia.
Di Stasiun Halim ada dua buah stasiun yang berseberangan, yaitu Stasiun KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung, yang sering disebut Whoosh, atau KCIC Halim) dan Stasiun LRT Jabodebek Halim.
Bagi kalian yang naik Whoosh dari Bandung, turun di Stasiun KCJB dan mau melanjutkan perjalanan dengan LRT, tidak perlu ke luar stasiun. Tinggal ikuti saja signage, pindah ke Stasiun LRT Jabodebek Halim.

Dari Stasiun LRT ini kalian naik kereta LRT ke berbagai tujuan di Jakarta, atau berganti moda MRT di stasiun tertentu. Kalian bisa cek petanya yang terpampang di stasiun atau cek ke internet.
Transportasi naik LRT maupun MRT di Jakarta cukup nyaman dan bersih, dan cukup tap e-monety ke pintu masuk.
Siap naik-turun escalator atau pakai lift sih untuk pindah peron/platform.
Selain itu sebagai traveler, kalian bisa ikuti tips Beauty Blogger Balikpapan yang tetap rapi dan wangi selama melakukan perjalanan.


tap e-money dan peron stasiun LRT
Dulu ada juga pesawat dari Bandara Halim Perdanakusumah. Kalian tinggal naik shuttle atau taxi ke bandara, dari Stasiun Halim.
Sayangnya sekarang Bandara Halim Perdanakusumah khusus diperuntukkan untuk AURI, tidak ada pesawat komersial lagi.
Stasiun Yogyakarta dan Solo
Bila kalian mau bepergian ke Yogyakarta atau Solo, ada beberapa pilihan kereta api jarak jauh yang sama untuk kedua kota tersebut.
Waktu tempuh Yogya-Solo tidak sampai satu jam.
Biasanya kami naik kereta Lodaya, Bandung-Solo Balapan, berhenti sekitar beberapa menit di Yogyakarta untuk menurunkan penumpang. Begitu pula sebaliknya, bila dari Solo, akan berhenti di Yogya untuk menaikkan penumpang.
Ada juga sih KRL khusus Jogja-Solo.
Di Yogyakarta terkenal dengan Stasiun Tugu, yang dibangun tahun 1887 yang tetap mempertahankan bentuk aslinya.
Khusus untuk keberangkatan, kalian bisa masuk dari pintu Selatan dan berfoto dulu di depan bangunan ikonik tersebut.
Sedangkan untuk kedatangan, harus ke luar dari pintu Utara, dan bisa melanjutkan perjalanan melalui moda transportasi lainnya.


Stasiun di Solo bernama Stasiun Solo Balapan termasuk salah satu stasiun besar berusia tua di Indonesia.
Dari stasiun ini terintegrasi juga dengan moda transportasi lainnya ke Terminal Tirtonadi, yang dapat dicapai melalui sky bridge.
Masih ada stasiun lain di kota Solo, yaitu Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Jebres, yang melayani Commuter Line.
Stasiun Semarang
Stasiun terkenal di Semarang adalah Stasiun Semarang Tawang, stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di kawasan Kota Lama Semarang, Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang
Letaknya yang di pantai kota Semarang seringkali terkena banjir rob dari laut.

Bangunan stasiun yang bergaya Hindia ini diarsiteki oleh Ir. Louis Cornelis Lambertus Willem Sloth-Blaauboer. Stasiun merupakan stasiun sisi, artinya dibangun memanjang mengikuti sumbu jalur kereta api. Bentuk massa bangunan adalah perpaduan kubus dan balok, dan atapnya berbentuk limas segiempat pada lobi utama serta prisma segitiga pada kedua sisi sampingnya. Memiliki kubah (dome) besar dan pilar-pilar kokoh.
Di depan stasiun terdapat Polder Tawang, kolam besar yang berfungsi sebagai pengendali banjir rob sekaligus area publik yang estetik.
Ada stasiun lain di Semarang, yaitu Stasiun Semarang Poncol, tempat pemberhentian sebagian besar kereta api penumpang kelas ekonomi dan komuter di Semarang
Penutup
Sebetulnya masih banyak stasiun-stasiun lain di Indonesia yang dibangun di era pemerintahan Hindia Belanda dan masih terawat serta berfungsi sebagai stasiun hingga hari ini.
Bepergian naik kereta api merupakan pilihan melakukan perjalanan favorit saya. Apalagi saya mendapatkan reduksi 20% karena usia. Semakin suka deh bepergian naik kereta api. Sama halnya teman saya Travel Blogger Balikpapan pastinya mempunyai juga pilihan transportasi favorit.
Stasiun-stasiun yang sudah tidak berfungsi, ada yang beralih menjadi museum, contohnya Museum Kereta Api Ambarawa, atau alih fungsi lainnya. Ada pula yang terabaikan karena kecenderungan masyarakat beralih ke mobil pribadi atau moda transportasi non kereta api.
Walaupun demikian perkereta-apian Indonesia selalu bertransformasi dengan dilakukan revitalisasi pada beberapa stasiun lama dan dibuka lagi jalur-jalur kereta api ke kota-kota yang berpotensi secara ekonomi maupun wisata.
Dulu kalau kita berada di stasiun-stasiun di beberapa kota terdengar juga lagu-lagu khas daerah. Misalnya, kalau di Stasiun Solo Balapan, akan terdengar lagu Bengawan Solo, atau di Stasiun Semarang Tawang akan terdengar melodi instrumental “Gambang Semarang” dalam genre keroncong.
Tapi sejak heboh pro kontra royalti pencipta lagu, kebijakan di semua stasiun tidak lagi terdengar lagu khas daerah setempat.
Stasiun kereta api di Indonesia bukan sekadar tempat transit, melainkan saksi bisu sejarah peradaban dan perkembangan ekonomi sejak zaman Hindia Belanda hingga hari ini. Setiap stasiun memiliki “jiwa” dan cerita uniknya masing-masing.
