Pada suatu hari Sabtu pagi, Mama Bara mengajak saya main ke Bukit Dago Utara, Bandung, untuk sarapan dan mencoba kuliner di sana. Cek-cek aplikasi transportasi online, ternyata mahal juga dari rumah di Buah Batu, berjarak 12 km, apalagi hari Sabtu. Belum macetnya kalau Sabtu. Akhirnya saya memilih nyupir sendiri saja, ke Mimilu & The Goodlife, Bandung, hidden gems kuliner sehat, dengan catatan, harus segera turun sebelum pukul 12.
Sekilas Kawasan Bukit Dago, Bandung
Sebagai warga pendatang yang sudah menetap di Bandung sejak kuliah hingga akhirnya membentuk keluarga, Bukit Dago Utara dan Bukit Dago Selatan, Bandung tuh, dikenal sebagai perumahan dosen ITB dan UNPAD. Dosen-dosen saya dulu rumahnya di sana, jadi dicirian sama teman-teman, dosen killer Pak H tuh rumahnya yang itu. Kalau Pak D, itu rumahnya yang turun ke bawah, desain sendiri rumahnya.
Setahu saya, banyak di antara rumah-rumah tersebut sekarang dipakai olah anak-anaknya, karena orang tua mereka sepuh atau sudah wafat.

Kawasan Bukit Dago, di utara kota Bandung ini lokasinya di sisi kiri jalan Ir H Juanda, yang dulu dikenal sebagai jalan Dago. Di zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda, di jalan Dago ini diperuntukkan sebagai perumahan orang Belanda.
Kawasan Bukit Dago masih ke atas lagi melewati Pasar Simpang Dago dan Pom Bensin.
Ada sebuah bangunan yang sudah ada sejak zaman saya kuliah, namanya Dago Tea House. Ternyata sudah ada sejak zaman Belanda, namanya Dago Theehuis (Rumah Teh Dago), yaitu restoran tempat menikmati kuliner dan minum teh sambil menikmati keindahan alam bumi Parahyangan pada masa itu.

Sekarang kawasan tersebut telah direnovasi menjadi Taman Budaya Provinsi Jawa Barat. Restoran zaman Belanda tersebut sudah direnovasi total menjadi Arena Panggung Terbuka, dilengkapi pula dengan fasilitas lainnya.
Mencicipi Kuliner Sehat di Mimilu & The Goodlife
Untuk ke Mimilu, ikuti saja petunjuk Taman Budaya Provinsi, dari jalan Ir. H. Juanda masuk ke Jalan Bukit Dago Utara.
Kalau bawa kendaraan, parkirnya di area parkir Taman Budaya Provinsi Jawa Barat.


Ada beberapa petunjuk nama-nama tempat yaitu Mimilu, Kozi Coffee, dan The Goodlife, kalian masuk saja ke gerbang kecil berwarna merah turun tangga, melipir gang, dan diterima oleh ruang tamu kecil.
Di bagian depan ini merupakan area cafe dilengkapi dengan meja bar dan mesin kopi kekinian, ada beberapa meja kecil di ruangan dan di taman buat kalian yang mau ngopi-ngopi.
Inilah Kozi Coffee. Sebetulnya Kozi Coffee ini ada beberapa cabangnya di kota Bandung. Tapi kali ini kami engga ngopi dulu sih.

Jadi kami lanjut masuk ke dalam. Masuk ke dalam seperti masuk rumah orang. Ya iyalah…memang ini aslinya rumah dosen ITB.
Ada semacam pojok yang menjual pernak-pernik. Terdapat meja-meja juga, cukup besar, bisa dipakai kerja atau bikin tugas bareng. Sepertinya dulu adalah area ruang keluarga atau ruang makan dari rumah tersebut. Ada tangga ke lantai 2, yang ada petunjuk umum dilarang masuk.

Lalu ke belakang lagi turun tangga, ada ruang terbuka sepertinya bagian belakang dari tiga buah rumah yang menjadi satu. Bingung ga membayangkannya?
Inilah area Mimilu – Dapur Sehat Alami, alamatnya Jl. Bukit Dago Utara No. 28.
Buka Selasa-Minggu 08.00-17.00. Hari Senin tutup.
Hanya ada empat meja yang di tata di bawah pohon. Sedangkan meja-meja lain ditata di teras di samping dapur.

Untuk memesan menu di Mimilu naik lagi ke ruang samping, ada meja pemesanan dan space pameran kecil. Waktu itu kami memang sekalian mau lihat pameran temannya Mama Bara, sesama seniman.



Berhubung sudah sarapan dari rumah, saya hanya memesan minuman Green Garden, yaitu minuman dingin racikan dari pokcoy, nanas, dan timun. Sedangkan Mama Bara memesan Bubur Mandarin dan Sate Jamur, sedangkan untuk Bara, dipesankan Cakwe Mayo.
Minumnya memesan Jeruk Kumquat dan Lemon.
Oh ya, di sini tidak menyediakan menu daging-dagingan, mostly pakai jamur. Ada menu Nasi Rendang, itu juga Rendang Jengkol. Hehe…
Waktu itu masih pukul 9 pagi, kami menikmati minuman dingin dan camilan, di bawah pohon, sambil menikmati sejuknya Dago Utara.
Mama Bara masih kongkow dengan temannya, foto-foto. Sambil berniat, kapan-kapan mau juga pameran di sini.
Amiiin.
Saya pun mengajak Bara eksplor area sekitar. Ada gerbang besar cukup untuk mobil masuk dari jalan di belakang. Kalau lihat peta, itu jalan Bukit Dago Utara II. Deretan rumah-rumah yang mirip desainnya, khas perumahan di kompleks. Ada beberapa rumah yang diberi plank papan nama brand, sepertinya beberapa rumah beralih fungsi tidak hanya rumah tinggal saja.

Di ujung halaman dekat gerbang, ada sebuah rumah, dengan plank jenama The Goodlife, dilengkapi tambahan atap cukup lebar untuk menaungi meja-meja konsumen.
Menjelang pukul 11, Mama Bara menawarkan apakah kami akan lanjut kulineran sekalian di The Goodlife?
Ayuklah…kagok kan sudah nyupir sampai sini…
Kami pun lanjut melipir menuju ke resto dimaksud untuk lanjut makan siang.
Begitu masuk ada meja pemesanan sekaligus kasir, tapi kami dipersilakan untuk memilih meja terlebih dahulu saja, supaya lebih santai memilih menu.
Di meja kasir ada rak-rak roti. Di sini terkenalnya adalah roti-roti sourdough. Konon roti yang dibuat dengan adonan biang sourdough ini lebih sehat dan tidak membuat perut kembung.


Kami pun memilih tempat duduk. Ada ruang duduk di dalam, turun dulu ke sebuah ruangan, sepertinya dulu adalah ruang keluarga. Oh ya rumah ini milik Ahadiat Yoedawinata, akrab dipanggil pa Ai, seniman, dan dosen FSRD ITB. Adapun The Goodlife ini dikelola oleh putrinya, Teh Asih.
Di ruang tersebut ada sofa merah, meja cukup untuk empat orang, ada dua meja lain berukuran lebih kecil. Terdapat deretan buku-buku sebagian besar tentang seni, dan resep dari berbagai negara, tertata rapi di rak-rak tembok.
Saya memesan Beef Merguez seharga Rp48.000,-, yaitu menu terdiri dari sosis, potongan kentang tumis, salad kacang merah, dan saus parsley pesto.
Mama Bara karena masih agak kenyang, memesan Pizza Za’atar Rp30.000,- saja, lalu minumnya Kopi Kecombrang. Memesan juga teh es manis favorit Bara.
Bara makan bekal dari rumah, karena Bara picky eater dan favorit banget nasi ayam goreng. Jaga-jaga tidak ada yang dia doyan, Mama Bara selalu membawa bekal yang sudah pasti Bara doyan.
Tak lama hidangan datang, sosis sapinya sepertinya home made, karena berbeda dibanding sosis-sosis yang beli di supermarket. Sosis dan kentangnya banyak, engga habis sendirian ini mah…Rasanya cukup berbumbu dan agak kering. Tadinya saya berharap ada saus seperti kalau makan steak, ternyata tidak ada. Salad dan saus pestonya enak.
Di meja ada botol plastik tutup hitam tampak menarik, isinya agak merah muda. Kami tadinya mengira acar jahe, sering ada kalau kita makan di restoran Jepang.
Ternyata itu adalah acar kecombrang.
Ujungnya Beef Merguez dan Pizza Za’atar, kami taburi acar kecombrang ini, rasanya jadi luar biasa. Pizza-nya ala Italia, kulitnya tipis dan kering, ditaburi isian roast chicken cajun.


Saya baru tahu, kecombrang (honje, bhs Sunda) dibikin acar enak banget loh…Kopi Kecombrangnya juga enak, unik…
Tidak ada tamu lain di ruangan ini, jadi kami santai saja menikmati hidangan dan saling cicip seperti biasa. Bara pun berkenan makan kentang dan sosis juga. Tak lupa juga sambil baca-baca buku yang ada di rak. Memang suasananya nyaman makan di sini, homey banget, jadi agak semi-semi healing deh…
Engga berisik, engga ada suara musik.
Sama halnya dengan Mimilu, The Good Life, buka Selasa-Minggu 08.00-17.00. Hari Senin tutup. Bisa banget kan sarapan sehat ke sini. Pengen mencicipi roti sourdough-nya.
Penutup
Setelah cukup puas menikmati vibes dan hidangan di The Good Life, kami pun membayar dan bersiap-siap pulang ke rumah. Melalui lagi rumah depan tempat Mimilu dan Kozi Coffee.
Sebelum menuju parkiran, di rumah sebelah ada plank brand Truffelogy. Penasaran saya pun mengajak Mama Bara dan Bara untuk mampir. Tidak ada tanda-tanda kegiatan tetapi di pintu masuk tertera “Buka”. Ya sudah kami ketuk saja rumahnya.


Ternyata menjual cokelat kekinian, chocolate truffle, cokelat lembut bentuk dadu bertabur bubuk cokelat.
Ada pilihan rasa, dark chocolate, milk chocolate, salted caramel chocolate, white chocolate, matcha dan mint.
Sebagai penggemar cokelat saya pun membeli dua kotak, rasa campur-campur, dark chocolate, salted caramel chocolate, dan matcha. Tak sabar pulang ke rumah untuk mencicipi cokelat yang lumer di lidah.

Buat teman-teman yang mau mencicipi kuliner sehat di Bukit Dago Utara sambil menikmati kesejukan udara Bandung, bisa ikuti IG-nya di:
@mimilu.id
@thegoodlife_bdg
Semoga bermanfaat.


Tinggalkan komentar