Kampung Toleransi Bandung, Jejak Multikultural Hidup Damai

Bandung tak ada habisnya punya cerita sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga hari ini. Letaknya 700 mdpl berhawa sejuk dan segar, sehingga pemerintah Hindia Belanda merencanakan menjadikan Bandung sebagai pusat pemerintahan zaman itu.

Tatanan wilayah kota masa itu terbagi menurut ras dan etnik agar pemerintah kolonial mudah untuk mengontrol. Misalnya ada wilayah Kauman sekitar masjid Agung, wilayah Pecinan, Babakan Sukabumi, Babakan Ciamis, dan lain-lain.
Sejak kemerdekaan Republik Indonesia, maka terjadi peleburan dan pembauran di berbagai wilayah di Indonesia. Walaupun nama wilayah masih sama berdasarkan nama etnis atau suku, tetapi warga yang menetap di sana beragam.

Kota Bandung sendiri dikenal sebagai salah satu kota multikultural di Indonesia, dengan banyaknya kelompok etnis dan agama yang hidup berdampingan.

Program Kampung Toleransi Bandung

kampung toleransi bandung
anak-anak di depan mural toleransi

Kampung Toleransi Bandung adalah program yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk menciptakan sebuah komunitas atau lingkungan di mana berbagai etnis, agama, budaya, dan latar belakang sosial hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati perbedaan satu sama lain.

Konsep ini menekankan pentingnya toleransi, penghargaan, dan kerjasama antara individu-individu dari latar belakang yang beragam untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif.

Kampung toleransi sering kali menjadi contoh nyata dari bagaimana keragaman dapat menjadi kekuatan yang memperkaya masyarakat.

Kampung Toleransi di Bandung adalah sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, harmoni, dan toleransi antar-etnis serta antar-agama di kota Bandung, Indonesia.

Program Kampung Toleransi di Bandung biasanya melibatkan berbagai kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan untuk memperkuat hubungan antar-kelompok, meningkatkan pemahaman antar-budaya, serta mempromosikan nilai-nilai toleransi dan kerukunan.

Ini bisa meliputi berbagai kegiatan seperti diskusi publik, acara seni dan budaya bersama, kunjungan ke tempat-tempat ibadah, serta proyek-proyek pembangunan komunitas.

Melalui upaya-upaya seperti itu, Kampung Toleransi di Bandung berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang, di mana perbedaan-perbedaan dihargai dan konflik-konflik diatasi melalui dialog dan kerjasama.

Hal ini menjadi contoh inspiratif bagi kota-kota lain di Indonesia dan di seluruh dunia dalam membangun masyarakat yang beragam namun harmonis.

Wilayah Kampung Toleransi Bandung

Hingga hari ini pemerintah kota Bandung telah memiliki lima kampung toleransi. Pada saat-saat tertentu di tempat-tempat tersebut diadakan acara atau upacara keagamaan sesuai dengan penganut di kawasan tersebut.

Kampung Toleransi Gang Luna

kampung toleransi rw04
kampung toleransi gang luna

Kampung Toleransi ini terletak di RW 04, Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojong Loa Kaler, Kota Bandung.
Ciri khas mencolok dari bentuk toleransi di Gang Luna adalah dengan terdirinya sejumlah tempat ibadah dari agama yang berbeda.

Terdapat empat gereja, empat wihara, dan dua masjid. Keberadaan sejumlah tempat ibadah tersebut saling berdekatan satu sama lain. Meski begitu, tidak pernah terdengar kabar bentrok dan rusuh antar umat beragama di sana.

Kampung Toleransi Paledang

Kampung ini terletak di RT 02 RW 02 Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.
Tepatnya berada di sebuah gang bernama Ruhana yang berada di Jalan Lengkong Kecil.

Di dalam kampung, rumah-rumah berdinding torehan mural berisi gambar dan pesan-pesan mengenai toleransi. Sementara di bagian ujung gang ada sebuah masjid yang berdiri bersebelahan dengan vihara.

Kampung Toleransi Dian Permai

Kampung toleransi ini terletak di RW 12 Kompleks Dian Permai, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Secara demografi, penduduk kawasan ini beragam. Tak hanya etnis Sunda, di kawasan ini juga dihuni oleh etnis lainnya seperti etnis Tionghoa. Agama yang tumbuh di kampung ini di antaranya, Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.

Kampung Toleransi Balonggede

Kampung ini terletak di RW 04 & 05 Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung.
Di Kelurahan Balonggede terdapat Masjid As Salam. Di samping itu juga ada tempat ibadah pemeluk agama lainnya seperti vihara dan gereja. Jaraknya saling berdekatan.

Akan tetapi, antar umat saling menghormati dan mendukung ketika ada kegiatan keagamaan masing-masing.

Kampung Toleransi Kebon Jeruk

kelenteng satya budhi
foto panoramik kelenteng satya budhi, sumber: hani

Kampung ini letaknya RW 08 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Daerah ini lebih dikenal sebagai daerah Pecinan, walaupun tidak ada jejak arsitekturalnya secara pasti. Kalau jalan Pecinan, malah letaknya lebih ke utara, sekitar jalan ABC, dekat Alun-alun Bandung.

Di kawasan ini terdapat kelenteng tertua di Bandung, yaitu Kelenteng Satya Budhi. Dulu ketika ada kebijakan agama Khong Hu Cu dilarang di Indonesia, kelenteng berganti nama menjadi vihara.
Setelah tahun 2000 di masa Presiden Abdurrahman Wahid, negara mengakui agama Khong Hu Cu sehingga bebas melakukan ritual dan ibadahnya.

Selain Kelenteng Satya Budhi, daerah Andir juga memiliki beberapa tempat ibadah yang beragam di sekitarnya, di antaranya adalah Vihara Tanda Bhakti, Masjid Al Hasanah, Gereja Bethel Tabernakel. Hal ini menjadi bukti bahwa walapun berbeda-beda, hidup damai dan saling berdampingan akan terwujud apabila toleransi dapat terjaga.

masjid al hasanah
masjid al hasanah, sumber: hani

Penutup

Sebetulnya walaupun tidak diresmikan menurut peraturan pemerintah, warga di kampung toleransi sudah hidup toleransi secara turun-temurun. Penamaan Kampung Toleransi Bandung tersebut malah memperkuat dan memberi contoh tentang hidup berdampingan secara rukun, bergotong-royong walaupun berbeda ras, etnik, dan agama.

Contohnya pada upacara keagamaan, warga akan saling membantu agar ritual maupun perayaan berlangsung aman tanpa ada insiden.

Bahkan di saat perayaan Imlek yang merupakan Tahun Baru China, seringkali ada atraksi barongsay yang mengundang hadirnya wisatawan ke daerah tersebut. Secara tak langsung menghidupkan perekonomian wilayah setempat.

kemeriahan imlek
kemeriahan menyambut Imlek di Vihara Satya Budhi

Semoga bermanfaat.

7 pemikiran pada “Kampung Toleransi Bandung, Jejak Multikultural Hidup Damai”

  1. Ternyata kampung toleransi di Bandung ada banyak ya, Bun. Selama ini yang paling sering dilihat itu yang ada di Gang Luna, Jamika, karena dekat dengan rumah mertua hehehe
    Dan memang di sana kelihatan sekali keberagamannya, ada vihara besar berdampingan dengan tempat ibadah agama lainnya.

    Balas
  2. Senengnya jika dalam keberagaman dan perbedaan kita tetap mengedepankan toleransi dan kerukunan, ya mbak. Unik sekali kampung toleransi ini, semoga makin banyak yang menggaungkannya agar makin banyak khalayak tahu jika kita memang negara yang berbhineka namun selalu ingin rukun dan damai sejak dahulu kala.

    Balas
  3. Kampung toleransi sebenarnya adalah representasi jiwa bangsa Indonesia ya, Mbak. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Saling menghormati, menghargai dan toleransi adalah nilai-nilai Pancasila yang harus dimiliki semua warna Indonesia. Dengan begitu masyarakat bisa hidup dengan damai dan bahagia.

    Balas
  4. Saya merasakan sendiri kalau di desa di Jatim, toleransi insyaAllah cukup tinggi. Adanya kampung toleransi yang resmi di Bandung, semoga membuat hidup kita semakin rukun. Salut juga sama effortnya pemerintah

    Balas
  5. Alangkah indahnya bisa hidup damai berdampingan dengan warga yang multikultural begini. Nyaman dan idaman. Untuk anak cucu, bisa jadi cara transfer budaya yang sangat efektif.

    Balas
  6. Perlu menjadi contoh untuk daerah lainnya nih kak. Kampung toleransi Bandung, sebenarnya di daerah lainnya juga banyak yang berdampingan toleransi ya, agar lebih ke up lagi serta jadi edukasi untuk anak anak dan lainnya

    Balas

Tinggalkan komentar