Kenangan Majalah GADIS Pengaruhnya Pada Remaja Putri

Eh, dia kan masuk majalah GADIS

Iya, itu dia yang jadi cover majalah GADIS

Begitulah bisik-bisik antar remaja, tentang teman yang tiba-tiba muncul di cover majalah GADIS.

Zaman sekarang sepertinya sudah jarang banget orang membaca majalah. Majalah apapun, sih. Bukan hanya majalah GADIS, yang mulai dirilis tahun 1973. Waktu itu, majalah GADIS yang diterbitkan oleh Femina Group amatlah populer, sehingga cukup mempengaruhi langkah gadis remaja di kemudian hari.

Mau tahu kenangan majalah GADIS dan pengaruhnya pada remaja putri kala itu?

Trend Mode

Awal mula ide menerbitkan majalah untuk remaja putri adalah ide dari bapak Sofyan Alisyahbana dan ibu Pia Alisyahbana. Waktu itu awal tahun 1970-an, baru-barunya pemerintahan orde baru. Sepertinya para remaja putri ini haus informasi tentang gaya hidup. Maka dengan adanya majalah ini menolong banget buat menambah info tentang mode dan fesyen. Sampai kami langganan majalah GADIS tersebut, termasuk langganan majalah Femina sekalian.

Kadang di majalah GADIS, ada juga pola baju atau Do-It-Yourself yang disematkan di dalamnya. Sehingga remaja putri yang bisa menjahit bisa meniru langkah-langkahnya. Pokoknya majalah menjadi semacam panduan gaya hidup atau lifestyle kekinian untuk masa itu.

Trend Kecantikan

Waktu itu ya, kalau kita kenal seseorang yang wajahnya dimuat di majalah rasanya seneng banget. Itu sebabnya ketika teman satu sekolah, apalagi teman sekelas, lalu tampil di majalah, hebohlah awak. Rasanya tuh prestasi banget. Mungkin seperti sekarang lah jadi selebgram atau youtuber gitu.

Model rambut bisa jadi acuan sa’sekolahan. Tiru-tiru Dhani Dahlan, Marina atau Marisa ya? Lupa juga saya. Pokoknya si Mbak ini hitam manis ada lesung pipitnya. Manislah pokoknya.

Langkah-langkah cara merawat wajah lebih hafal deh, daripada rumus Aljabar Linier. Duh…

Dulu ada masanya yang terpampang di cover majalah GADIS justru yang wajahnya “Indonesia”, maksudnya bukan wajah indo. Misalnya Desy Ratnasari, Kris Dayanti, Inneke Koesherawati, Lulu Tobing, Anissa Pohan, Dian Sastrowardoyo, dan lain-lain.

Aktualisasi Diri

Majalah GADIS itu semacam batu loncatan untuk aktualisasi diri. Semacam agensi pencari bakat. Banyak remaja-remaja ini dikemudian hari menjadi artis film, penyanyi, peragawati, dan lain-lain.
Apalagi majalah GADIS sering bekerja sama dengan brand tertentu menyelenggarakan semacam kontes. Misalnya GADIS Sunsilk, Putri Remaja, dan GADIS Sampul. Lomba berkaitan dengan bakat juga ada, misalnya Lomba Perancang Busana.

Ada satu masa, terpampang puluhan wajah polos dari gadis-gadis usia 13-18 tahun tampil dengan caption segudang prestasinya. Rupanya sedang ada ajang kompetisi kecantikan.

Nah, kan saya kepoin dong satu-satu prestasinya. Umur berapa, asal darimana, prestasinya apa, siapa keluarganya. Penting ini, kan biasanya para Mamanya tuh yang turut sibuk. Terus karena saya pemerhati baju, ya model baju yang dipakai kayak apa.</p>
Setelah lomba-lombaan usai, dan para gadis tersebut dewasa, ternyata oh ternyata saya masih kepoin mereka, dong. Dan saya terkagum-kagum bila ternyata mereka kuliah, lulus, dan berprofesi. Macam, Marina or Marisa idolaque itu, dia jadi dokter gigi. Enggak lalu terjun ke dunia entertainment lalu ngartis. Zaman dulu kan kalau jadi artis itu ya gimana gitu.

Zaman sekarang beda lagi. Anak-anak gadis sekarang pararinter abis. Ya ngartis, ya nyekolah. Macam Maudy Ayunda itu.

Bacaan Ringan

Dari zaman dulu rupanya ABG lebih suka bacaan yang ringan-ringan saja. Majalah lah sumbernya. Cerpen, tips, resep mudah, how-to, rubrik dan banyak lagi. Dulu itu, masihlah yang namanya perempuan diarahkan untuk terampil dengan urusan pekerjaan perempuan (baca, rumahtangga).

Rubrik yang hits kenangan majalah GADIS tuh rubrik CINTA. Ada tanya jawabnya. Ya saya senang saja bacanya. Walaupun kenyataan tidak ada gita cinta zaman SMA.

Majalah GADIS Zaman Now

majalah gadis digital

 

Majalah GADIS sama halnya dengan majalah-majalah lain mengalami pasang-surut penyelenggaraannya. Lagi-lagi soal biaya operasional yang tidak mumpuni, membuat majalah cetak berhenti beroperasi, atau berkurang oplahnya. Trend yang serba digital menggerus budaya literasi cetak.

Majalah GADIS ternyata cepat tanggap dalam hal ini. Kita masih bisa kepoin trend kekinian remaja putri ke websitenya di www.gadis.co.id. Tagline juga berbeda sekarang, Be Smart, Positive, and Creative. Dulu, taglinenya Top di antara yang Pop. Duh…engga banget.

Membahas kenangan majalah GADIS, iseng saya klik perihal majalah ini. Ternyata ada beberapa penelitian yang mengangkat fenomena majalah remaja putri tersebut. Tentang loyalitas, hingga gender. Saya sepertinya masuk tim loyalitas. Haha…

Nah, teman narablog begitulah yang terkenang dalam benak saya tentang majalah GADIS. Ini sesuai dengan tema pilihan di awal bulan di komunitas blog 1 minggu 1 cerita, sih, MAJALAH. Seneng saja saya, bahwa majalah ini masih eksis, walaupun dalam bentuk digital.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar