Kalau teman-teman main ke Bandung, sering lihat seliweran bus yang dindingnya terbuka dan bus tersebut warnanya beda-beda, itu adalah Bus Bandros, singkatan dari Bandung Tour on Bus.
Bus Bandros merupakan ide dari Walikota Bandung waktu itu, Ridwan Kamil, pada tahun 2013 untuk meningkatkan sektor pariwisata. Pemerintah kota Bandung kemudian mengadakan sayembara terbuka untuk memberi nama bus wisata tersebut melalui jejaring sosial Twiiter (sekarang X).
Sayembara ini akhirnya dimenangkan oleh Erry Pamungkas yang memakai kata “BANDROS”, akronim dari Bandung Tour on The Bus. Selain itu bandros juga nama salah satu makanan khas Bandung. Klop lah…

Akhirnya pada tanggal 31 Desember 2013, bertepatan dengan malam tahun baru 2014, Wali kota Ridwan Kamil resmi meluncurkan bus wisata Bandros.
Bus Bandros memiliki kapasitas maksimal 24 orang penumpang dan menggunakan mesin Hino Dutro 130 yang dimodifikasi sedemikian rupa, pengerjaan bus Bandros ini dilakukan disebuah bengkel bernama Domatzi yang ada di Kota Cimahi.
Awalnya bus Bandros didesain bertingkat, sehingga kita bisa duduk di atas bus tanpa atap. Tetapi karena terjadi kecelakaan fatal seorang penumpang terjatuh tersangkut kabel. Konon, penumpang ini keasyikan foto-foto sambil berdiri mengarah ke belakang. Sekarang bus ini hanya satu tingkat saja.
Rute Bus Bandros di Kota Bandung
Saat ini Bus Bandros hadir dengan tujuh warna, diantaranya; Bandros Biru, Bandros Kuning, Bandros Ungu, Bandros Hijau, Bandros Pink, Bandros Hitam, dan Bandros Merah. Dari masing-masing warna Bandros tersebut akan melayani transportasi melalui lima rute wisata Kota Bandung yang berbeda-beda.
Harga: Rp 20.000/single trip dan Rp 40.000/multi trip.
Berikut rute Bandros selengkapnya.

Bandros Biru
Alun-Alun Bandung >> Cibaduyut >> Taman Leuwi Panjang >> Museum Sribaduga >> Alun-Alun Regol >> Kawasan Buahbatu
Bandros Kuning
Lapangan Gasibu >> Taman Cibeunying >> Taman Super Hero >> Taman Foto >> Gedung Merdeka >> Alun-Alun Bandung >> Braga
Bandros Ungu
Lapangan Gasibu >> Taman Cikapayang >> Alun-Alun Ujungberung >> Museum Geologi >> PUSDAI >> Saung Angklung Udjo
Bandros Hijau
China Town >> Pasirkaliki >> Alun-Alun Cicendo >> Karang Setra >> UPI >> Pasar Baru >> Alun-Alun Bandung
Bandros Pink
Lapangan Gasibu >> Taman Pasupati >> Taman Cikapayang >> Teras Cihampelas >> Forest Walk Baksil >> Taman Budaya
Bandros Hitam
Khusus untuk tamu VIP yang berkunjung ke Kota Bandung
Nah, itulah rute terbaru Bandros yang beroperasi saat ini. Setiap warna Bandros memiliki rute masing-masing.
Untuk tepatnya kalian mau tahu rute mana saja, bisa cek peta berikut:

Rute Braga Free Vehicle

Waktu itu hari Minggu, kami ke jalan Braga untuk menikmati suasana Braga Beken (bebas kendaraan), atau BFV (Braga Free Vehicle). Kami naik taxi online dari rumah dan turun di ujung jalan Braga bawah, di seberang Bank BJB.
Suasana siang itu cukup terik, tetapi berjalan menyusuri sepanjang jalan tidak terlalu terasa panas karena terlindungi oleh jajaran pertokoan.
Kami masuk ke sebuah gang kecil di samping Cafe Jurnal Risa dan mendapati halaman dan ruang terbuka cukup lega di balik pertokoan. Kalian bisa jajan ice cream, kopi, atau sekadar duduk-duduk di tangga-tangga yang cukup luas.
Banyak atraksi di sepanjang jalan Braga ini, rata-rata adalah pagelaran musik kecil-kecilan. Atau promosi rumah makan atau cafe.
Di ujung jalan Braga, perempatan dengan jalan Lembong-Suniaraja, ternyata berderet-deret parkir beberapa Bus Bandros.
Warnanya acak sih, ada hijau-kuning-abu… Ada sebuah bus yang sudah agak penuh.
Saya pun menanyakan ke petugas, apakah masih ada tempat duduk untuk kami bertiga.
Masih ada tempat duduk tetapi di belakang supir dan duduknya pun menghadap ke samping.
OK. Tak apalah.
Kalau tidak, kami ditawari bus sebelah yang masih agak kosong, yang tentunya menunggu sampai penumpang penuh. Kami pun naik dan bisa membayar tiket melalui aplikasi QRIS. Mantap, praktis kan…


bayar pakai QRIS
Tak lama bus pun berangkat. Pertama Teteh pemandu memperkenalkan diri dan driver yang akan membawa kami berkeliling.
Ternyata rutenya dari jalan Braga, menuju kawasan Gedung Sate, tetapi tidak melalui depan Gedung Sate hanya samping Gedung Sate (jalan Cilamaya).
Sambil bus tersebut jalan, Teteh pemandu menjelaskan sejarah kota Bandung, nama-nama gedung bersejarah yang dilalui, dengan sesekali heureuy (becanda, bahasa Sunda).

Untuk memecah kebekuan, Teteh pun berinteraksi dengan penumpang, menanyakan asal dan lain-lain. Ada serombongan penumpang yang ternyata berasal dari Papua.
Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 30 menitan, kami sudah kembali ke Jalan Braga lagi, itupun tidak mengelilingi seluruh Bandung.
Ya memang, rute Bus Bandros ini tertentu kan, sesuai dengan warna bus. Hanya saja, ternyata titik kumpul ujung Jalan Braga ini, dilayani oleh beberapa warna bus.
Penutup
Ini kedua kalinya saya naik Bus Bandros di kota Bandung. Pertama kalinya dulu bus tersebut dipesan oleh grup Historical Trips, yang jelajahnya sesuai dengan permintaan grup kami.
Sedangkan yang kedua ini saya naik dari ujung Jalan Braga, yang hanya ada di hari Sabtu dan Minggu, sesuai jadwal Braga Free Vehicle.
Saya pernah naik juga bus wisata sejenis di Kota Malang. Namanya Bus MACITO (Malang City Tour). Waktu itu busnya bertingkat, tetapi sekarang sepertinya satu tingkat juga, demi keamanan.


MACITO (Malang City Tour), tahun 2019, sekarang bukan bus bertingkat
Nah, belum coba nih, konon di Jakarta ada juga bus wisata juga, yang titik berangkatnya dari MONAS.
Bagaimana dengan kota-kota tempat tinggal teman-teman? Adakah bus-bus yang melayani keliling kota?


Tinggalkan komentar