Pada suatu hari berkesempatan ke Solo, penasaran saya ingin tahu rasanya kuliner fine dining ala raja di Pracimasana Mangkunegaran Solo. Dapat info dari teman, bahwa untuk makan di Pracimasana ini kita harus reservasi dan membayar deposit terlebih dahulu. Melalui website https://pracimabogasana.co.id/rsvp/ saya pun melakukan reservasi untuk dua orang.
Kata teman lagi, bagusnya kita tuh di sana makan malam, atau sore lah, karena kalau malam lampu-lampu dari Pracimasana terpendar ke luar bagus banget. Bangunan ini memang diselimuti kaca hingga ke bawah atap. Sedangkan kalau makan siang di sana bakalan silau kena panas.
Apa itu Pracima Tuin dan Pracimasana
Pracima Tuin atau Taman Pracima, tuin artinya taman dalam bahasa Belanda, adalah sebuah taman yang terletak di area Pura Mangkunegaran. Untuk mencapai taman ini melalui selasar diseberang Pendopo Ageng.
Di taman ini terdapat air mancur, kolam, taman bunga disertai jalur-jalur pedestrian, serta pendopo kecil. Di salah satu sisi taman terdapat bangunan megah berlapis kaca sekelilingnya bernama Pracimasana. Di Pracimasana inilah yang digunakan sebagai restoran fine dining.
Restoran fine dining adalah jenis restoran yang menawarkan pengalaman bersantap mewah dan istimewa.
Jadi kalau kalian sudah reservasi untuk makan di Pracimasana, otomatis bisa juga jalan-jalan terlebih dahulu melihat-lihat Pracima Tuin ini.

Selain sebagai restoran yang menghidangkan menu istimewa yang menjadi favorit Mangkunegoro secara turun temurun, area Pracimasana dan Pracima Tuin juga sering digunakan untuk berbagai event kebudayaan. Tujuannya adalah untuk melestarikan serta memperkaya budaya Jawa secara berkelanjutan.
Untuk diketahui, Pracimasana telah direncanakan sejak masa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI, kini telah menjadi destinasi kuliner favorit bagi wisatawan baik dari dalam maupun luar kota.
Pengalaman Kuliner di Pracimasana
Ketika pertama saya berkunjung ke Pracimasana ini bareng suami dan sudah reservasi terlebih dahulu melalui Instagram https://www.instagram.com/pracima.mn/ kemudian diarahkan ke websitenya.
Saya booking pukul 17:30 supaya cukup waktu untuk jalan-jalan di taman terlebih dahulu. Waktu itu saya memesan salad Huzarensla dan minuman, sedangkan suami memesan pepes ikan dan minuman.
Sebagai ciri fine dining ala raja, maka plating atau menata hidangan di piring sangat diperhatikan. Begitu pula mengatur alat makan dan serbet khusus.
Kebetulan hari itu suami kurang sehat, jadi saya tak banyak foto-foto di taman dan sekitar air mancurnya.
Kedua kalinya saya kuliner di Pracimasana Mangkunegaran Solo ini bersama teman-teman peneliti dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Sebelum acara fine dining, kami jelajah dulu tour ke Puri Mangkunegaran didampingi oleh pemandu yang menjelaskan dengan lengkap beberapa bangunan di sana, yaitu:
- Panti Swasthya
- Prangwedanan
- Pendhapa Ageng
- Pringgitan
- Bale Warni
- Pracimayasa
- Pracima Tuin


Untuk menambah kesan ala-ala Jawa dan lebih seru, kami sudah janjian Ibu-ibunya dreskode memakai kebaya model kutu baru dan berkain. Sedangkan bapak-bapaknya pakai beskap dan berkain, boleh modifikasi.


Jadilah kami jalan-jalan keliling Pura Mangkunegaran dan sambung fine dining pakai dreskode pakaian Jawa.
Sesuai ketentuan, kain yang dipakai tidak diizinkan memakai motif parang lereng.

Paket Menu
Ke sini bareng suami, pesannya menu satuan sesuai daftar menu. Agak pricey sih, karena selain makanan, resto ini juga menjual suasana taman Pracima dan bangunan restorannya kan…

Ketika ke sini bareng teman peneliti dari group Caraka, dipesankan menu paket lengkap mulai dari camilan, menu pembuka, salad, menu utama, dan minuman.


Berikut menu paketnya:
- Bakwan Jagung, camilan ini juga sebagai lauk, diambil dari buku “Resep Masakan Jawi” di era Mangkoenagoro VII.
- Brubus, hidangan pembuka Mangkunegaran yang telah ada sejak masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII. Hidangan ini terbuat dari olahan daging giling yang dimasak bersama bumbu rempah, lalu dibungkus menggunakan sawi
- Huzarensla, menu ini merupakan favorit Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani.
- Sop Daging Kacang Merah, masakan ini ada pengaruh masakan Belanda.
- Manuk Londo Goreng Lumer Mentega, merupakan sejenis burung puyuh hanya lebih besar, digoreng dengan mentega.
- Kastara, merupakan teh racikan segar dicampur dengan granita apel dam jeruk nipis.



Untuk menu utama, diberi pilihan antara pilih Sop Daging Kacang Merah atau Manuk Londo Goreng Lumer Mentega.


Sesudahnya kenyang banget, karena saya jarang makan lengkap kayak gini. Saya pilih Manuk Londo Goreng Lumer Mentega itu ternyata eneg, apalagi burungnya dua ekor. Engga habis sih, minta tolong suami menghabiskan. Hehe…
Penutup

Fine dining dengan urutan menu mulai dari hidangan pembuka, utama, lalu biasanya penutup, merupakan cara makan ala Western.
Seperti kita ketahui, ketika Mangkunegara I berkuasa sejak 28 Desember 1757 – 28 Desember 1795, merupakan era Pemerintahan Kolonial Belanda.
Ada akulturasi budaya dalam cara masak, platting, susunan piring, alas piring, alat makan, dan mengatur meja makan.
Kalau cara tradisional rakyat biasa kaan kita makan pakai tangan lah, ga pakai sendok-garpu-pisau, dan duduknya juga lesehan.
Dari segi rasa sih menurut saya tidak ada yang istimewa, atau lidah saya bukan lidah raja… 😀 …
Tapi pengalaman dua kali makan gaya fine dining ala raja di Pracimasana Mangkunegaran Solo, menu satuan atau paket, memang memberikan pengalaman yang berbeda sih.
Next kulineran ke mana lagi ya di Solo?


Tinggalkan komentar