“Pasar Gede Ora Sare” merupakan tagline sebuah pasar di kota Solo, yang artinya pasar besar tidak pernah tidur. Pasar Gede Hardjonagoro memang bila menilik dari besarnya bangunan dibandingkan bangunan sekitarnya, terlihat besar. Tidak tidur, maksudnya menggambarkan kesibukan sebuah pasar yang terletak di jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Solo, yang tidak pernah berhenti.
Layaknya pasar, ketika menjelang subuh, hilir mudik kendaraan, penyalur dan pedagang untuk bersiap memajang barang jualan.
Sejarah Pasar Gede
Pasar Gede Hardjonagoro, lebih umum dikenal sebagai Pasar Gede Solo, merupakan pasar tradisional terbesar dan tertua di kota Solo, terletak di Kampung Pecinan.
Awalnya pasar ini merupakan pasar oprokan atau lesehan yang didominasi pedagang dari luar kota. Sedangkan pedang setempat yang rata-rata orang Tionghoa, menggelar dagangannya di depan rumah masing-masing.
Ketika pasar oprokan semakin berkembang, seorang kapitan Be Kwat Koen kemudian menyewakan lahan miliknya. Di kemudian hari, lahan pasar ini diambil alih pemerintah dan dilakukan renovasi terhadap pasar oprokan ini.
Kapitan Be Kwat Koen menjalin kerja sama kontrak selama 40 tahun dengan residen Solo, yakni Tuan Schneijder guna mengelola pasar tersebut. Kapitan Be Kwat Koen mendapat konsesi mengelola tanah dan pasar hingga tahun 1924.
Setelah Tuan Schneijder purna jabatan, pemerintah kolonial mengambil alih konsesi seluruh tanah dan pasar. Sebagai gantinya, Be Kwat Koen diberi dana sebesar 35.000 Gulden melalui bank negara Nederlandsche Handel Maatschappij Semarang.


survei pasar tradisional, solo
Uniknya pada renovasi pasar ini dirancang oleh arsitek Belanda, Ir. Thomas Karsten, yang dikenal juga sebagai perencana kota. Salah satu hasil rencana penataan kotanya adalah kota Bandung.


Thomas Karsten dikenal dengan desain yang memadukan gara arsitektur Indish dan elemen kearifan lokal serta memerhatikan unsur tropis sesuai dengan kondisi alam Indonesia.
Setelah mengalami revisi karena tataletaknya yang tidak tepat, akhirnya desain pasar siap dibangun, bekerja sama dengan Nederland Vereniging (N. V.) Braat & Co Surabaya dan N. V. Hollandsche Beton Maatschappij.
Pasar ini dibangun tahun 1929 dan diresmikan pada 12 Januari 1930 oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X.

Camilan berupa aneka keripik merupakan los cukup favorit, karena bisa menjadi tujuan mencari oleh-oleh khas Solo.
Pasar Gede Hardjonagoro menawarkan beragam produk, mulai dari kebutuhan sehari-hari seperti sayur-mayur, ayam, daging, telur, buah, bumbu dapur, serta bahan kering, seperti beras, minyak, dan lain-lain.
Di bagian tertentu dijual juga makanan, mulai dari jajanan tradisional, nasi liwet, sate kere, dan yang sangat terkenal adalah es dawet telasih.
Setiap Sabtu malam, pasar malam digelas dengan suasana meriah dan berbagai pilihan makanan tradisional.


Belanja Santai di Pasar Gede Hardjonagoro
Ketika saya berkunjung ke Pasar Gede ini dalam rangka melakukan perjalan penelitian bersama teman-teman dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Waktu itu saya jalan kaki dari hotel yang terletak di Jl. Jend. Urip Sumoharjo No.25, tujuannya mau cari keripik yang merupakan camilan favorit keluarga.

Suasana pasar pagi itu tidak terlalu ramai. Desain bangunan yang tinggi dan terdapat jendela di plafon membuat pasar ini terlihat terang dan terasa kering. Tidak tercium bau licit, yang sering kita alami bila masuk ke pasar tradisional.
Hal yang saya pelajari ketika kuliah, desain pasar yang baik adalah yang sirkulasi udaranya terjaga baik, dan drainase air kotornya mengalir lancar. Dengan demikian lantai tetap kering dan tidak becek.
Kami pun mencari los keripik, karena suami mencari keripik jagung marning yang tipis. Saking favoritnya, sampai suami tuh pernah beli online, dan dikirim ke Bandung.
Macam keripik yang ditawarkan di los keripik ini, harganya pun cukup terjangkau. Tentu saja, kami harus memperhitungkan pula, gimana cara bawanya nanti pulang naik kereta api ke Bandung. Apalagi dari Solo ini kami mau mampir ke Yogyakarta, dan menginap semalam di sana.
Akhirnya setelah melakukan transaksi, baru sadar kalau kami tuh haus dan lapar. Udara panas kota Solo lumayan bikin keringetan sih.
Engga pakai lama, kami mencari los dawet telasih, minuman tradisional legend yang ada Pasar Baru Hardjonagoro, dan sering menjadi tujuan untuk kulineran di Solo


Es dawet telasih terbuat dari es dawet, ketan hitam, jenang sumsum, tape ketan, biji telasih, potongan nangka, gula cair, santan, dan es batu.
Sedangkan es gempol pleret terbuat dari beras yang digiling halus menjadi tepung beras. Tepung beras tersebut kemudian diaduk dengan sedikit air hingga menjadi adonan. Adonan ini kemudian dibentuk menjadi dua jenis, yaitu gempol yang berbentuk bulat dan pleret yang berbentuk pipih. Disajikannya mirip dengan es dawet telasih, juga diberi gula cair, santan, dan es batu.
Rasanya yang manis dan gurih, cukup mengusir rasa haus dan lapar di pagi menjelang siang di kota Solo ini.
Sumber:
https://jejakkolonial.blogspot.com/2016/11/harmoni-timur-barat-di-pasar-gede.html
https://telusuri.id/sepenggal-kisah-eksistensi-pasar-gede-hardjonagoro-solo-yang-terlupakan/


Tinggalkan komentar