Walking Tour Saba Purwakarta, Jalan-jalan Sejarah Kota

Akhir-akhir ini setelah purnabakti, saya jadi sering ikut grup walking tour, yaitu wisata jalan-jalan jelajah suatu kota. Di Bandung ada beberapa grup seperti ini. Awalnya saya ikut Historical Trips Bandung, kemudian @bandunggoogguide, lalu ada @ceritabandung.id, @bandoengwaktoeitoe, dan lain-lain. Seiring waktu, ternyata di kota lain pun bermunculan grup-grup sejenis. Rupanya kegiatan jalan kaki menyusuri kota sambil menyimak kisah sejarah dari pemandu, menjadi kegiatan favorit mengisi waktu berbagai kalangan, bahkan menjadi destinasi wisata keluarga. Kali ini di Instagram ada tawaran rute baru walking tour Saba Purwakarta, yaitu grup jalan-jalan sejarah di Purwakarta, yaitu ke dua rute, Kemenakan dan Rasa Poerwakarta.

Kota Purwakarta

Purwakarta atau juga dikenal Purwakarta Kota adalah sebuah kecamatan sekaligus menjadi ibu kota kabupaten di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Dulu terkenal karena Bupatinya Deddy Mulyadi yang sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat.

Menilik sejarahnya, Purwakarta sebelum menjadi kabupaten, dulunya masuk bagian dari Kabupaten Karawang sejak era VOC tahun 1630. Kemudian pada tahun 1831 dijadikan sebagai ibu kota Kabupaten Karawang berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 20 Juli.
Purwakarta menjadi kabupaten tersendiri sejak tahun 1968, yang berjarak 80 km dari Jakarta, dan 40 km dari Bandung.

Arti nama Purwakarta, adalah tempat yang mulai ramai. Purwa, artinya permulaan, dan karta, artinya ramai/hidup. Masa itu nama Purwakarta belum populer seperti sekarang, karena masyarakat mengenal daerah ini bernama Sindangkasih.

Sama halnya dengan beberapa daerah di Indonesia di zaman pemerintahan Hindia Belanda, Purwakarta merupakan kota afdeling (perkebunan) yaitu teh dan lumbung beras. Apalagi dulu pernah dijadikan basis logistik Kerajaan Mataram saat penyerangan VOC ke Batavia pada abad ke-18.

Menuju Purwakarta

Sebelum saya mendaftar untuk ikut jalan-jalan bersama Saba Purwakarta, tentunya memastikan terlebih dahulu transportasi dari Bandung ke Purwakarta.

Paling mudah bagi saya tentu saja naik kereta api, apalagi kan dapat reduksi 20%.
Ada beberapa pilihan perjalanan dari Bandung ke Purwakarta dan yang paling sesuai waktunya adalah Parahyangan Bandung-Jakarta, berangkat pukul 06.35 dan turun di Purwakarta pukul 08.04. Masih cukup waktu satu jam untuk eksplore Stasiun Purwakarta dan sekitarnya.

Saya pun mendaftarkan keikutsertaan ke link yang tertera di IG @sabapurwakarta dan mendapat informasi, titik kumpulnya di Alun-alun Purwakarta.

Oh ya, saya juga mencari informasi kepulangan ke Bandung. Setelah menimbang karena bepergian seorang diri, maka memilih pulang naik Parahyangan juga pukul 15.14 dan tiba di Bandung pukul 16.42.
Jadinya saya tidak ikut rute kedua yaitu Rasa Purwakarta, yang menurut jadwal diadakan pukul 14.00.

stasiun purwakarta
stasiun purwakarta

Walking Tour Saba Purwakarta Rute Kemenakan

Setelah mengisi link yang diedarkan di Instagram Saba Purwakarta, sebetulnya ada booking fee sebesar Rp10.000,-, tetapi untuk usia 50 tahun ke atas dibebaskan dari booking fee tersebut.

Nah, setelah mendaftar saya dikontak oleh admin dan diberi tahu meeting point-nya yaitu: Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta. Selain itu diberi tahu juga titik akhir perjalanan, yaitu di Rumah Landhuis Sastra Adiningrat.
Menurut penjelasan, durasi perjalanan sekitar 1,5 – 2 jam sambil penelusuran seru jejak sejarah.

Kemudian diberi keterangan apa saja yang perlu disiapkan kalau mau ikut walking tour, yaitu:

  • Air minum biar tetap bugar
  • Alas kaki yang nyaman
  • Pelindung cuaca: topi, kacamata, atau payung lipat
  • Kamera/HP buat dokumentasi
  • Uang secukupnya untuk jajan dan dukung UMKM lokal
  • Semangat & rasa ingin tahu!

Masjid Agung Purwakarta

masjid agung purwakarta
masjid agung purwakarta

Sambil menunggu pukul 09.00, saya menyempatkan mampir ke Masjid Agung Purwakarta, yang bernama lengkap Masjid Agung Baing Yusuf.
Seperti halnya tata letak alun-alun di berbagai kota di pulau Jawa, beberapa kota menerapkan kosmologi Catur Gatra Tunggal, yaitu menyatukan empat elemen pusat kota—Keraton (politik), Masjid (religi), Alun-alun (sosial), dan Pasar (ekonomi)—menjadi satu kesatuan yang utuh. Masjid terletak di sisi barat dan selatan biasanya keraton/rumah bupati. Sisi utara ada yang pasar, ada pula berupa penjara, seperti halnya di kota Bandung.

Pada tata letak kota yang terdapat dualisme pemerintahan di era pemerintah Hindia Belanda dan pribumi, maka sisi timur ada yang menempatkan Karesidenan (kantor pemerintah Hindia Belanda), ada pula yang menempatkan penjara. Pada kota Purwakarta saya tidak melihat adanya kantor Karesidenan di sisi timur. Sepertinya tidak menerapkan sepenuhnya kosmologi Catra Gatra Tunggal ini.

Masjid tampak megah yang sepertinya telah mengalami beberapa kali renovasi, sehingga tak terlihat lagi jejak masjid ketika pertama kali didirikan. Dari informasi yang saya pelajari kemudian, masjid ini pertama kali didirikan tahun 1826 oleh K.H.R. Muhammad Yusuf bin R. Jayanegara.

interior masjid agung purwakarta
interior masjid agung purwakarta

Alun-alun Purwakarta dan Pendopo Purwakarta

Kira-kira pukul 09 lebih, peserta yang mendaftar walking tour Saba Purwakarta rute Kamenakan telah berkumpul, kami pun diarahkan menuju Pendopo Purwakarta di selatan Alun-alun Purwakarta.
Kami diterima oleh pemandu, yaitu Bambang Fasya dan Ahmad Said Widodo, seorang ahli sejarah Purwakarta.

Alun-alun Purwakarta, yang juga dikenal sebagai Taman Pasanggrahan Padjadjaran, adalah pusat ruang terbuka hijau yang asri di jantung kota, terintegrasi dengan kantor pemerintahan. Taman-taman utamanya meliputi Taman Maya Datar (dengan patung macan putih) dan Taman Pancawarna.

Untuk menuju Pendopo Purwakarta, dari arah Masjid Agung menuju ke arah kanan, terdapat sebuah bangunan terbuka beratap ijuk. Menurut keterangan Gedung didirikan pada tahun 1857 sampai dengan tahun 1860. Bahan bangunannya dari hutan Cibungur dan Sungai Cikao.

pendopo
pendopo dan interior pendopo

Di belakang Pendopo terdapat Gedung Negara dengan desain yang sangat berbeda dan dahulu digunakan sebagai tempat tinggal resmi para bupati, sehingga masyarakat kerap menyebutnya padaleman, dari kata dalem—panggilan hormat untuk bupati pada masa itu.

gedung negara
gedung negara
foto bersama

Mr.dr.Kusumaatmadja

Jalan-jalan Saba Purwakarta dinamakan rute Kemenakan, adalah untuk menelusuri para menak di Purwakarta.

Ménak (atau Menak) dalam kebudayaan Sunda merujuk pada kelas sosial bangsawan, ningrat, atau orang terhormat yang memiliki hak istimewa dan strata tinggi dalam masyarakat Priangan. Secara historis, mereka adalah keturunan penguasa atau keluarga kerajaan yang sering menggunakan gelar seperti Raden, Raden Tumenggung, atau Tubagus.

Menak di Purwakarta bukan sekadar bangsawan, melainkan laku kepemimpinan. Dalam tradisi Sunda, menak adalah elite yang memerintah dengan tata krama, disiplin, dan tanggung jawab sosial.

Dari Alun-alun kami pun berjalan kaki menuju ke rumah Mr.dr.Kusumaatmadja, yang merupakan Ketua Mahkamah Agung pertama di Indonesia mencerminkan pergeseran menak menuju elite terdidik.

Tidak ada keterangan tahun didirikan rumah ini, yang alihfungsi menjadi Hotel Kusuma.

hotel kusuma
hotel kusuma

Ipik Gandamana

Setelah mendengarkan paparan sejarah Mr.dr. Kusumaatmadja, kami pun melanjutkan jalan kaki menyusuri jalan Laks Laut RE Martadinata, menuju rumah Ipik Gandamana, yang merupakan rumah kos-kosan.

Ipik Gandamana, adalah Residen Priangan, Gubernur Jawa Barat dan Mantan Mendagri juga menandai fase birokrasi republik, modern namun tetap membawa etos priyayi.

wisma ipik gandamana
wisma ipik gandamana
rumah kuno
rumah asli

Bangunan Ex Gedung Bioskop

Lanjut…
Berjalan kaki menyusuri jalan utama kota Purwakarta ini, kita bisa menyaksikan perjalanan perkembangan sebuah kota melalui jejak bangunan yang ada.
Ada sisa gedung bioskop yang sudah tua dimakan usia, lapangan untuk menonton bioskop, maupun gedung bioskop modern, tetapi sudah tidak digunakan lagi.

Modernisasi juga mengubah perilaku kita untuk mendapatkan hiburan. Bila dulu kita ingin menonton film mengunjungi gedung biokop, maka sekarang kita bisa menonton film dari layar HP.

gedung bioskop
gedung bioskop lama
paparan pemandu
paparan pemandu

Lapangan Sahate

Di ujung Jl LLRE Martadinata dan lanjut ke Jl Jend Sudirman terdapat sebuah lapangan bernama Lapangan Sahate. Lapangan ini menurut info di internet merupakan lapangan yang sering dipakai bila ada acara musik, panggung konser, wisata kuliner, atau pasar malam.

Di kesempatan kali ini pemandu sempat menceritakan seorang tokoh perempuan yang merupakan pujangga Purwakarta, yaitu Siti Rukiah Kertapati.
Karya-karyanya berupa buku dan puisi sempat meramaikan khasanah Pujangga Baru. Tetapi karena perannya di organinasi Lekra, sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia, namanya pun hilang dari sejarah.

Landhuis Sastra Adiningrat

landhuis
landhuis
landhuis purwakarta
foto bersama teman seperjalanan

Setelah menyeberang jalan dan sesekali saya mengambil foto-foto bangunan lama yang ada, sampailah kami di Landhuis Sastra Adiningrat.

Rumah tua ini dulunya ditempati oleh seorang Patih (penasihat Bupati Purwakarta). Tidak ada keterangan tentang kapan bangunan ini berdiri, tetapi dari bentuknya masih terlihat bentuk bangunan awal abad 1900-an.

rute jalan kaki

Penutup

Landhuis Sastra Adiningrat merupakan titik akhir kami menelusuri jejak para bangsawan, pejabat, dan tokoh penting yang pernah membentuk wajah Purwakarta.

Di balik bangunan tua dan jalanan kota, tersimpan kisah kekuasaan, kebijakan, dan kehidupan kaum menak pada masanya. Bukan sekadar nostalgia, tapi perjalanan memahami bagaimana sejarah kota ini pernah dijalankan, karena Purwakarta punya cerita besar yang layak untuk terus diceritakan.

Saya pun pamit ke pemandu dan teman-teman seperjalanan dan memisahkan diri.
Sambil menunggu kereta api pukul 15.14, masih ada waktu untuk foto-foto di Situ Buleud, sebuah danau buatan tak jauh dari Stasiun Kereta Api Purwakarta.

situ buleud
situ buleud
patung badak putih
taman air mancur sri baduga di situ buleud dan patung badak putih
bangunan kembar
bangunan kembar di depan stasiun purwakarta dan patung Prabu Kiansantang

Tentu saja makan siang sate maranggi di Om Kaka, tepat di depan Situ Buleud.
Lanjut foto-foto berbagai patung yang ada di Purwakarta, lalu mencicipi sepotong Cheese Cake di sebuah cafe di seberang Stasiun Purwakarta.

sate maranggi om kaka
cheese cake
cheese cake di cafe clavia, seberang stasiun

Demikianlah sedikit kisah perjalanan walking tour Saba Purwakarta yang motonya: Ngabumi sajarah, ngarasakeun carita. Jalan-jalan sejarah di tanah Purwakarta. Kapan-kapan bisa nih kembali ke Purwakarta, kan belum kulineran Rasa Purwakarta.

Bagi kalian yang bertempat tinggal di kota-kota lain, boleh dong berbagi tips liburan di kotamu. Indonesia sangat kaya dengan spot-spot wisata yang bahkan sangat menarik dikunjungi walaupun hanya berjalan kaki.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

9 tanggapan untuk “Walking Tour Saba Purwakarta, Jalan-jalan Sejarah Kota”

  1. Avatar Lala

    Sangat menarik sekali. Aku suka ikutan walking tour tetapi masih sekitaran Jakarta dan Kota Bogor saja nih.

    Ternyata di Purwakarta juga ada walking tour, bahkan punya rute istimewa. Baca pengalaman mengikuti walking tour Saba Purwakarta, ini seru banget sih dan nggak ada kasih fee ke pemandu atau tour guide kah? Hanya booking fee untuk usia dibawah 50 tahun saja?

  2. Avatar Tanti Amelia

    Woow destinasi Purwakartanya kok banyak juga yaa.. dan menyenangkan karena ada walking tour jadi berasa kedekatan sama peserta lain

    saya pernah bareng Kompasiana yang khusus jalan-jalan, dan keluar masuk museumnya yang banyak banget itu, dan juga ke daerah wisata (plus hotel) yang di atas bukit, dan itu berkesan banget!

  3. Avatar farida pane

    Purwakarta ini salah satu kota yang aku jarang banget denger. Bagi penggemar wisata sejarah, bisa jadi pilihan, ya

  4. Avatar Hani
    Hani

    Halo Mbak Lala…lupa nambahin. Kalo ikut Walking Tour itu, biasanya ada ketentuan “pay as you wish”. Ada fee, tapi sifatnya sukarela…

  5. Avatar Annie Nugraha

    Purwakarta ini sejatinya gak jauh-jauh amat dari Cikarang, tempat saya tinggal. Maksimal satu jam lah jika gak macet. Saya bahkan cukup sering jajan di Sate Maranggi Purwakarta kalau lagi kangen sama sate berlemak. Pernah kepikiran sekali-sekali nginap di sini sembari menyusur beberapa tempat bersejarah di kabupaten ini tapi gak terealisasi sampai saat ini.

    Setelah baca ini jadi tergoda untuk menyusur. Ternyata banyak juga ya tempat dan jejak sejarah yang bisa disusuri. Saya tertarik dengan Gedung Negara nya itu. Kalau pintar ngambil sudut foto yang ciamik, hasilnya pasti keren pake buangets. Surga fotografi sih ini.

    Cus ah sekalian nginap biar puas dan tak terburu-buru menyusur setiap tempat satu persatu.

  6. Avatar Guritno Adi

    Kalau ke luar kota, saya selalu pengen ke alun-alunnya. Rasanya bisa jadi representasi bagaimana kondisi kota tersebut. Di Purwakarta ini menarik ya, ternyata jadi tempat para menak tinggal. Nuansa huniannya juga unik dan klasik banget.

  7. Avatar Maria G Soemitro

    aduh berangkat 06.35, gak kekejar nih kalo dari Jatinangor

    beberapa waktu lalu ada blogger bandung (lupa namanya) yang ngajakin ke purwakarta naik kereta, sesampai di sana makan sate maranggi trus balik lagi

    ternyata malah ada walkimh tour saba purwakarta ya?
    Harus dipikirin nih untuk tidur di Bandung supaya bisa ikutan

  8. Avatar Yuni Bint Saniro

    Setiap baca postingan walking tour, rasanya aku juga pingin ikutan lho, Kak. Pergi sendiri sama ikutan walking tour pasti beda.

    Misal walking tour Saba ini. Sayang banget nggak ikut kegiatan yang kedua. Rasa Purwakarta itu, Kak.

    Mana ikut mendukung UMKM pula

  9. Avatar Myra

    Suka banget dengan banguan tuanya. Sayangnya ada yang akhirnya gak terawat, ya. Padahal kayaknya bakal cakep banget nih kalau semuanya terawat. Pengen nyoba sate maranggi di Purwakarta yang katanya banyak yang enak.

Tinggalkan komentar