Bagi anak-anak zaman sekarang mungkin kurang dikenal nama Lokananta. Padahal dulu
Lokananta merupakan sebuah perusahaan piringan hitam dan rekaman terkenal sebagai bagian dari Jawatan Radio Kementrian Penerangan Republik Indonesia. Perusahaan ini didirikan atas inisiatif R. Maladi tanggap 29 Oktober 1956.
Sejak tahun 2022, Lokananta bertransformasi menjadi Lokananta Bloc Solo, atas kerjasama dengan M Bloc Group, sebuah ruang publik baru dan menjadi ajang berkumpul anak-anak muda.
Sejarah Transformasi Lokananta
Lokananta, berasal dari kisah pewayangan Jawa, yang artinya “seperangkat gamelan surgawi dalam yang dapat berbunyi sendiri dengan merdu”
Ketika perusahaan rekaman Lokananta didirikan, lebih banyak merekam genre lagu-lagu daerah, lagu wajib nasional, lagu pop, keroncong, dan juga sandiwara radio. Fungsi utama Lokananta saat itu adalah menduplikasi bahan siaran dari RRI.
Beragam musisi Indonesia, seperti Waldjinah dan Bing Slamet, pernah melakukan rekaman di studio ini. Tidak hanya musisi, beragam pertunjukan juga pernah direkam oleh Lokananta. Sejumlah pertunjukan Srimulat dan wayang direkam untuk disiarkan pada Radio Rakyat Indonesia (RRI).
Pada tahun 1961, status perusahaan diubah menjadi perusahaan negara dengan nama PN Lokananta. Kemudian pada tahun 1972, produksi audio Lokananta dialihkan dari piringan hitam ke format pita magnetik.
Digerus zaman, Lokananta mengalami kebangkrutan pada tahun 1999. Industri piringan hitam dan kaset di Indonesia sudah mulai ditinggalkan.
Kemudian pada tahun 2012, Lokananta menjadi sebuah museum. Sejak itu, Lokananta mulai berusaha untuk mengembalikan kejayaannya. Ketika tahun 2014 pertama kali dilaksanakan Festival Lokananta dan Record Store Day, masyarakat pun kembali diperkenalkan dengan keberadaan Lokananta.
Pada tahun 2022, dimulai revitalisasi Lokananta menjadi Lokananta Bloc atas kerja sama dengan M Bloc Grup. Ruang publik ini baru dibuka pada tahun 2023 bersamaan dengan dilaksanakannya Festival Lokananta 2023.

Mempelajari Sejarah Rekaman di Indonesia
Di Lokananta Bloc Solo ini kalian bisa mempelajari sejarah rekaman di Indonesia yaitu dengan berkunjung ke Galeri Lokananta.
Galeri ini menyajikan sejarah dan perjalanan pabrik piringan hitam Lokananta. Koleksi seperti arsip dan alat-alat rekaman disajikan dalam bentuk instalasi yang menarik sehingga menjadi spot foto yang unik.
Sebelum berkunjung, kalian harus melakukan registrasi secara daring terlebih dahulu lewat link yang ada di akun Instagram @lokanantabloc. Terdapat empat jam kunjungan yang dapat dipilih, yaitu pukul 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00.

Setelah mendaftar secara daring, kalian dapat membeli tiket secara online. Tiket masuk untuk umum seharga 35.000 per orang, warga senior (di atas 60 tahun) 25.000 per orang, pelajar dan mahasiswa 25.000 per orang. Bagi anak di bawah umur tidak perlu membayar tiket alias gratis.
Jangan sampai datang terlambat karena registrasi kalian akan hangus setelah 10 menit. Kalian bisa memilih jalan-jalan sendiri tanpa pemandu, atau disertai pemandu.
Waktu itu kami memilih disertai pemandu, karena pastinya akan mendapatkan penjelasan lebih lengkap.
Setelah kalian mendaftar sesuai jam kunjungan dan hadir di Lokananta Bloc Solo, maka kalian akan diantar ke tiap-tiap ruangan yang bernama galeri.
Galeri Lokananta terdiri dari berbagai ruangan seperti Linimasa, Gamelan, Diskografi, Bengawansolo, Anekanada, Proklamasi, Ruang Pamer, Pustaka, dan Toko Lokananta.

Di galeri Linimasa, kalian akan masuk ke ruangan yang terpampang poster serta memorabilia sejarah rekaman di Indonesia. Ada juga berbagai alat musik, catatan dan aransemen pemusik waktu itu, berikut juga lirik-lirik lagu yang ditulis tangan.

Sesudahnya di ruangan sebelahnya adalah ruangan Gamelan. Zaman dulu kalau siaran di radio, selalu dalam keadaan live, jadi disiarkan langsung. Kalau pun akan direkam, harus dalam satu kali take.
Ribet ya waktu itu…
Lalu kami menuju ke galeri Diskografi. Di ruangan ini merupakan koleksi piringan hitam, kaset, maupun disket, yang koleksinya tidak kurang dari 53.000 keping piringan hitam dan 5.670 master rekaman daerah. Di ruangan ini ada tablet, yang kalian bisa memilih lagu-lagu kenangan zaman dulu yang ingin kalian dengar.

Kemudian kami lanjut ke ruangan berikutnya yaitu galeri Bengawansolo. Bengawansolo merupakan sebuah lagu legendaris yang diciptakan oleh Gesang. Di ruangan ini kita bisa melihat proses rekaman musik. Pengunjung dapat melihat deretan alat yang digunakan untuk merekam suara menggunakan medium analog, berupa pita magnetik maupun digital. Ruangan ini cukup interaktif, melalui 4 alat proyektor slide, pengunjung dapat mempelajari kerumitan proses produksi hingga akhir menjadi piringan hitam.

Selanjutnya adalah galeri Anekanada yang seluruh sisi dindingnya dipenuhi rak berisi cover-cover piringan hitam (vinyl) yang pernah diproduksi oleh Lokananta. Semuanya memang lagu-lagu yang diciptakan atau dinyanyikan oleh seniman-seniman Indonesia. Termasuk juga lagu-lagu daerah hingga rekaman wayang.

Ruangan berikutnya adalah galeri Proklamasi. Di dalam ruangan ini gelap gulita (makanya tidak ada fotonya…). Kalian mendengarkan rekaman suara Ir. Soekarno yang membacakan Proklamasi Republik Indonesia dan direkam oleh Lokananta.
Rekaman suara Soekarno membacakan teks Proklamasi yang sering kita dengar sekarang ini, bukanlah rekaman asli yang diambil pada tanggal 17 Agustus 1945, karena waktu itu tidak ada teknologi untuk merekam. Baru di tahun 1951, Presiden RI melakukan rekaman ulang teks proklamasi di Studio RRI Jakarta kemudian dibuat piringan hitam dan disebarkan ke seluruh Indonesia.
Susunan ruang-ruang galeri di Lokananta Bloc ini mengitari halaman dalam berumput hijau, yang di salah satu sisinya ada bangku-bangku. Sejak gedung cagar budaya ini direvitalisasi, memang menjadi lebih hidup dan dipakai sebagai tempat diskusi tentang musik.


Selanjutnya kami memasuk ruangan galeri Pameran, yang disini memamerkan rekaman dan sejarah permusikan setelah kemerdekaan. Ada masanya ketika lagu-lagu yang dirilis liriknya tentang makanan, karena zaman itu rakyat Indonesia sulit makan.

Kemudian ada masanya Presiden Soekarno melarang musik ngak-ngik-ngok, yaitu musik genre Beatles, di tahun 1960-an. Sehingga pemusik Indonesia, ada yang pernah ditahan, contohnya Koes Ploes.
Ruangan galeri terakhir adalah Perpustakaan dan Toko Lokananta, tempat kalian bisa membeli aneka cendera mata dari Lokanta.
Penutup



Kalau kita datang ke Lokananta Bloc Solo yang beralamat Jalan Ahmad Yani No. 379 A, Kerten, Laweyan, Solo, di samping kiri ada deretan bangunan penunjang yang berfungsi sebagai stal atau toko-toko produk UMKM, beberapa cafe dan tempat kuliner, working space, photo box, dan toko piringan hitam (vinyl) dengan banyak pilihan.
Sedangkan di halaman belakang ada panggung dan amphiteater untuk kawula muda berekspresi musik. Halamannya cukup luas dengan kapasitas tidak terlalu banyak.

Nah, gimana, kalian sudah siap mengunjungi Lokananta Bloc Solo, yang sekarang menjadi tempat wisata baru di kota Solo. Sebaiknya sih naik kendaraan umum atau ojek/taxi online, karena kapasitas parkirnya kecil.


Tinggalkan komentar