Bila kota Yogyakarta sendiri sarat dengan objek wisata, maka objek wisata sekitar Yogyakarta pun tak kalah menariknya. Banyak objek wisata mengandung nilai sejarah dan budaya, ketekunan kerajinan lokal, keindahan objek wisata alam, dan budidaya agrowisata.
Pokoknya banyak deh tempat hits, bisa sekalian menjadi objek berfoto.
Beberapa objek wisata tersebut ada yang saya kunjungi ketika kami sekeluarga melakukan trip ke Jawa Timur dan anak-anak masih kecil. Kemudian ada pula yang saya kunjungi bersama teman-teman alumni SMA, dan yang terakhir slow travelling berdua suami.
Candi Prambanan

Kalau diingat ke Candi Prambanan pernah zaman masih sekolah, study tour bersama rombongan sekolah. Ketika menyambangi lagi candi Hindu terbesar di Indonesia dan situs warisan dunia UNESCO ini bersama keluarga dan anak-anak masih SD.
Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9. Menjulang setinggi 47 meter dengan ornamen yang mengagumkan, kecantikan candi Hindu ini tak tertandingi.
Candi Prambanan terletak 17 km ke arah timur dari pusat Kota Jogja dan bisa dijangkau dengan bus Trans Jogja, tetapi waktu itu naik kendaraan pribadi. Suami mengemudikan sendiri dari Bandung.
Waktu itu pengunjung tidak banyak, pelataran luas, kami masih bisa berfoto tanpa terlalu banyak gangguan.
Candi Prambanan menawarkan keindahan arsitektur dan kisah sejarah yang memukau. Kompleks candi ini sangat cocok untuk pecinta sejarah, budaya, dan arsitektur. Pemandangan relief dan patung dewa-dewi Hindu di sini sangat mengesankan dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Candi Borobudur


Biasanya kalau kita mengunjungi Candi Prambanan, sekalian dengan Candi Borobudur, karena letaknya berdekatan. Apalagi sekarang menjadi satu pengelolaan di bawah PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.
Waktu berkunjung bersama anak-anak itu, kami belum ke Situs Ratu Boko, baru terlaksana berkunjung ke situs ini setelah mengalami renovasi.
Meski terletak di Magelang, Candi Borobudur kerap menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur menawarkan pengalaman spiritual, sejarah, dan panorama alam yang spektakuler, terutama saat matahari terbit.
Berbeda dengan zaman dulu, kami bisa naik sampai ke atas dan memegang stupa. Sekarang sudah dibatasi untuk naik ke atas, dan karena alasan konservasi tidak diperbolehkan lagi memegang stupa yang ada di puncak Candi Borobudur.
Baru-baru ini sempat ramai dibahas di media sosial, tentang pemasangan stair lift, yaitu lift miring mengikuti anak tangga candi dari lantai 3 hingga lantai 7.

Lava Tour Merapi

Lava Tour Merapi masih merupakan wisata hip yang disukai anak-anak dan orang dewasa. Biasanya diatur oleh agen wisata yang melibatkan pemilik jip terbuka yang membawa wisatawan menjelajah bekas guguran lava dan menerjang sungai berbatu.
Saya ke sana bareng ex teman sekelas SMA beberapa tahun yang lalu itu, Gunung Merapi baru beberapa tahun sebelumnya erupsi, sehingga masih tampak bekas hutan yang gundul karena terbakar. Belum ada model jelajah menggunakan jip terbuka seperti sekarang.
Tetapi namanya ada keramaian, pastinya ada orang jualan. Di bekas desa yang tertimbun guguran lava abu kehitaman itu, kami malah jajan wedang sekoteng.

Sabila Farm



kebun buah naga di sabila farm
Sesudah kami mengunjungi lokasi desa yang tertimbun guguran lava Gunung Merapi itu kami ke Sabila Farm, berlokasi di Jalan Kaliurang KM.18,5, Kertodadi, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.
Sabila Farm merupakan kebuh buah, yang sedang melakukan uji coba buah naga merah. Waktu itu naga merah merupakan jenis baru yang unik, ternyata pembuahannya harus dibantu manusia. Zaman itu di pasaran baru ada buah naga putih, naga merah kalau ada masih sangat mahal.
Ternyata kalau menilik websitenya, di Sabila Farm selain membudidayakan buah naga merah serta kuning, juga ada alpukat, durian, sirsak, jeruk RGL, srikaya jumbo, dan pepaya.
Selain itu ada juga bunga-bunga yang ditanam di kebun Sabila Farm, ada bunga telang, bunga matahari raksasa, bunga kamboja, bunga kecombrang, dan bunga cosmos. Cocok banget kalau Sabila Farm menjadi wisata edukasi.
Kota Gede

Tak lengkap rasanya kalau sudah wisata sejarah dan alam, tidak sekalian wisata belanja bukan?
Menuju kembali ke Yogyakarta, kami mampir ke Kota Gede.
Menurut sejarahnya, Kota Gede, dulunya adalah ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam. Kota Gede kini menjadi daerah wisata yang menawarkan perpaduan antara sejarah, budaya, dan kerajinan perak yang terkenal.
Kerajinan perak muncul dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan perhiasan dan peralatan rumah tangga bagi keluarga kerajaan (keraton) dan kaum bangsawan. Para pengrajin awalnya adalah para abdi dalem (pegawai istana) yang memiliki keahlian mengolah perak.
Bila kalian berkunjung ke sana, ada beberapa Silver Shop yang sekalian ada workshop yang bisa dikunjungi. Jadi kita bisa melihat keuletan pengrajin yang mendapatkan keahlian secara turun-temurun. Sekarang tentunya sudah mendapat sentuhan dari desainer perak yang memberikan pelatihan dan pengetahuan baru.

Penutup
Objek wisata sekitar Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Selalu ada yang baru dan masih menjadi wish list saya kalau kapan-kapan ke Yogya lagi.
Bahkan di Kota Gede ini sejak ada revitalisasi objek wisata sejarah, bahkan berkembang pula wisata kuliner dan dibangun hotel maupun home stay yang homey banget.
Masih ada objek wisata andalan yang lokasinya di pantai yang viewnya ke Laut Selatan, yaitu Obelix Sea View dan HeHa Sky View. Konon santai sore hari sambil menikmati matahari terbenam bagus banget di sana.
Sumber:
https://www.tempo.co/teroka/kontroversi-stair-lift-bobobudur-1593942


Tinggalkan komentar