Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittingi

Ketika naik angkot di Bukittinggi selepas mengunjungi Ngarai Sianok, kami bertanya ke sesama penumpang, bagaimana caranya menuju Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.
Tak kurang lebih dari satu orang menjelaskan ke kami dengan ramah. Turun dekat Pasar Banto Bukittinggi, lalu jalan kaki kira-kira 300 meter. Warga lokal di angkot ini sangat ramah ke kami, bahkan seorang ibu berkisah, kalau anaknya dulu kuliah di Bandung. Sehingga sedikit banyak beliau tahu juga Bandung.

walking tour
walking tour

Sejarah Rumah Kelahiran Bung Hatta

teras masuk ke museum

Rumah Kelahiran Mohammad Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat, adalah situs bersejarah yang memiliki signifikansi besar dalam narasi kemerdekaan Indonesia.
Ketika kami tiba di sana, rumah tersebut terletak di Jl. Soekarno Hatta No.37, Campago Ipuh, Kec. Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat 26137.

Terlihat dari tepi jalan bangunan berlantai dua, alas kaki berderet sebelum masuk ke teras rumah, menunjukkan pengunjung harus melepas alas kaki.
Seorang petugas mengawasi buku tamu untuk diisi oleh siapa saja yang berkunjung tanpa dipungut biaya.

Rumah ini dinding depannya terlihat menggunakan konstruksi papan kayu yang dicat putih dan di dinding ditempel denah keseluruhan rumah, lantai 1 dan lantai 2. Jendela-jendelanya mempunyai dua lapis daun jendela, bagian luar dari kayu dengan lis warna biru tua, sedangkan bagian dalam daun jendela kaca yang bisa dibuka tutup.

Dinding bagian samping terbuat dari anyaman bilik bambu dicat warna cokelat yang teknik anyamannya belum pernah saya temui sebelumnya.

Kelahiran dan Masa Kecil (1902–Awal 1910-an)

Mohammad Hatta, yang akrab disapa Bung Hatta, dilahirkan di rumah ini pada 12 Agustus 1902.
Rumah ini adalah kediaman keluarga ibu Hatta, Saleha. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal dunia ketika Hatta masih berusia sangat muda, sehingga ia banyak dibesarkan oleh ibu dan pamannya, Amai Jan (paman dari pihak ibu) yang memiliki peran penting dalam mendidiknya.

perpustakaan kecil dan foto keluarga

Begitu masuk ke dalam rumah, di bagian kiri ada perpustakaan kecil yang menunjukkan bahwa pemilik rumah cinta akan buku. Lalu ruang duduk yang cukup luas yang menunjukkan bahwa rumah ini berada di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai agama dan tradisi Minangkabau. Keluarga Hatta, terutama dari pihak ibu, dikenal sebagai keluarga ulama terpandang.

Di salah satu dinding terpasang foto-foto dan silsilah leluhur Bung Hata serta di sepanjang dinding lainnya berbagai dokumentasi kegiatan Bung Hatta dalam foto hitam-putih.

Hatta menjalani masa kecil dan pendidikan dasarnya di Bukittinggi sebelum kemudian pindah ke Padang untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 1913.

ruangan-ruangan di rumah kelahiran bung hatta

Arsitektur dan Kehidupan Masa Kecil

Rumah ini terletak di Jalan Soekarno-Hatta (dulu Jalan Raya Gadang) di tengah kota Bukittinggi.
Rumah ini didirikan sekitar tahun 1860-an dan menggunakan struktur kayu yang terdiri dari bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan pavilion di belakang berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta di masa bujang.

Bangunan aslinya sempat terbakar pada tahun 1960-an, namun telah direkonstruksi dan direstorasi hingga menyerupai bentuk aslinya saat Hatta dilahirkan pada 12 Agustus 1902.

Menilik gaya arsitekturnya rumah berdinding kayu dan anyaman bambu dan lantainya berlapis anyaman tilam ini tidak menunjukkan Rumah Gadang khas Minangkabau. Mungkin karena bukan merupakan rumah adat, yang biasanya di suku Minangkabau diwariskan ke garis keturunan anak perempuan.

dinding belakang dari anyaman bambu dan kamar bujang

Mohammad Hatta dibesarkan dalam keluarga ulama dan pedagang yang terpandang. Kakeknya dari pihak ayah, Syekh Abdurrahman, seorang ulama besar Minangkabau asal Batuhampar, Kabupaten Limapuluh Kota.

Meski tak pernah bertemu, kisah kakeknya diterima Bung Hatta dari Syekh Arsyad, anak Syekh Abdurrahman sekaligus saudara sang ayah. Si Bung sendiri juga tak sempat mengenal ayahnya Muhammad Djamil yang meninggal dunia saat Bung Hatta berusia 8 bulan.

Rumah ini juga menyimpan detail interior yang otentik, termasuk perabotan, meja belajar, dan kamar tidur yang mereplikasi suasana awal abad ke-20. Melihat kamar belajar Hatta, yang di atas pintu tertera “Kamar Bujang” terlihat sederhana namun rapi memberikan gambaran tentang disiplin diri yang ia terapkan sejak kecil, yang kemudian membentuk karakter intelektualnya yang cermat dan terorganisir.

bung hatta
Bung Hatta Sang Proklamator

Selanjutnya Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang. Ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Prins Hendrik School (PHS) di Batavia, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Hatta melanjutkan pendidikannya di Handels Hooge School, sebuah sekolah dagang di Rotterdam, Belanda, antara tahun 1921 hingga 1932.

Penutup

ruangan di bawah tangga dan suasana dapur

Cukup lama saya mengamati satu persatu tiap ruangan di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta ini, menghayati setiap tinggalan furnitur dan asesorisnya. Semuanya masih rapi dan bersih, mencerminkan bahwa dahulu pemilik dan penghuninya golongan terpelajar dan sederhana.

Di deretan paviliun tampak dapur lengkap dengan peralatan masak zaman dulu yang masih menggunakan kayu. Di samping rumah terdapat garasi kereta kuda, sebagai alat transportasi masa itu yang hanya dimiliki oleh kaum menak.

Rasanya betah berlama-lama di rumah ini, ditambah lagi hawa sejuk dan angin sepoi udara kota Bukittinggi, seolah enggan untuk beranjak.

Hari semakin siang, ketika kami pamit, dan kembali menyusuri jalan Soekarno Hatta menuju destinasi berikutnya One Day Trip Kota Bukittinggi kami.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar