Hari Minggu pagi, sedang siap-siap mau mencuci, putra sulung mampir ke rumah, dan bertanya apakah saya sudah sembuh batuknya atau belum. Sudah lebih dari dua minggu batuk, dua kali ke puskesmas, belum sembuh. Ke dokter di apotek di belakang rumah, diresepkan antibiotik, berujung alergi, dan stop obat. Ganti obat deh…
Putra sulung yang sudah rapi mau pergi. Saya tanyalah, mau ke mana. Dia bilang, istrinya mau naik unta di Plaza Haji AlQosbah. Katanya ada unta di sana…
Ikuutt…
Apa itu Plaza Haji AlQosbah
Untungnya, saya pagi-pagi sudah mandi, jadi ketika anak-mantu mau jalan-jalan, saya sat-set saja dong, langsung ready. Alhamdulillah, anak-anak memang tetanggaan sama kami.
Saya pernah dengar Plaza Haji AlQosbah ini sebuah tempat baru tak jauh dari Masjid Al Jabbar. Jadi penasaran kan, mumpung ada yang ke sana…
Perjalanan cukup lancar dari Buah Batu ke Soekarno-Hatta, kemudian membalik ke arah melalui Jalan Cimincrang. Setelah 30 menit, sampailah kami di lokasi.
Setelah patah balik di seberang gedung, kami pun mencari tempat parkir yang tidak mudah, karena bertepatan dengan hari Minggu.
Tampak dari tepi jalan, bangunan Plaza Haji AlQosbah bergaya Mediterranean, dengan pilar-pilar tinggi menjulang. Area bangunan cukup padat dan di depan bangunan tampak lalu-lalang sepasang unta ditunggangi oleh anak-anak dan dewasa. Halaman dan teras bangunan cukup ramai.
Di sisi kanan di depan bangunan toilet umum, digelar karpet rumput dan tangga besi untuk konsumen yang antre untuk naik unta.
Menantu yang waktu umrah belum kesempatan naik unta, siap-siap daftar, tetapi ternyata hari ini kuota sudah penuh. Nanti siang ada lagi pukul 13:00.
Ternyata antusiasme pengunjung untuk naik unta cukup tinggi…



suasana di halaman depan Plaza Haji AlQosbah di hari Minggu
Akhirnya kami pun antre tiket masuk saja.
Jadi ada dua pilihan tiket masuk, yaitu tiket haji dan tiket umrah.
- Tiket Reguler (manasik umroh): Rp10ribu weekdays dan Rp15ribu weekend
- Tiket Terusan (manasik haji): Rp20ribu weekdays dan Rp25ribu weekend
Setelah mendapatkan tiket, kami diberi gelang kertas sebagai bukti pembelian tiket. Pengunjung memiliki dua pilihan: boleh langsung masuk ke sebuah ruangan besar atau ke ruangan lain di sisi kanan pojok.
Waktu itu kami langsung masuk ke ruangan besar tersebut.



antri tiket, gelang tanda masuk, dan suasana lobi menuju ruang utama
Di pintu masuk ada security yang mengarahkan untuk menyimpan alas kaki di rak dan dilarang makan minum atau nyamil-nyamil di dalam ruangan.
Waktu itu saya, anak-mantu, sudah siap plastik keresek, jadi alas kaki kami simpan di keresek dan boleh dibawa masuk ke ruangan.
Sebuah ruangan setinggi dua lantai. Di sisi kiri atas ada void. Tampak pengunjung lain yang tidak masuk ke ruangan bisa menonton dari atas.

Di tengah ruangan tampak replika Kaabah. Waktu pertama kali lihat, kayak hah? Kok kecil…
Lupa ingat, pernah tawaf dulu, apakah sebesar/sekecil ini?
Di sisi lain, ada pintu area Sa’i. Di dalam ruangan Sa’i tersebut ada replika Bukit Safa, Bukit Marwah, dan lampu hijau di plafon, tanda kalau ritual Sa’i berlari-lari kecil.



pintu menuju area sa’i, replika bukit Shafa, dan penjelasan petugas di bukit Marwah
Ada pintu lain di sudut belakang, yaitu replika Terowongan Mina.
Dan di ujungnya, ada ruangan untuk simulasi pelemparan jumrah. Sebelum masuk ke ruangan, pengunjung akan diberi batu-batu oleh petugas.

Kami waktu itu membeli tiket reguler untuk manasik umrah, sehingga tidak bisa masuk ke area Terowongan Mina dan Lempar Jumroh.
Konon, ada area Tenda Arafah juga untuk simulasi pengalaman wukuf.

Simulasi Manasik
Masih ingat di atas, saya tulis ada ruangan di pojok kanan?
Ternyata ruangan tersebut merupakan replika Raudah.
Di ruangan beralaskan karpet ini ada beberapa jamaah yang menyimak penjelasan tentang rukun umrah/haji dan ritualnya.

Siapa saja yang membeli tiket boleh ikut menyimak. Nanti oleh petugas Plaza Haji AlQosbah akan dituntun untuk manasik umrah/haji, sesuai tiket.
Pantas saja, waktu kami sibuk foto-foto sekitar replika Kaabah, ramai rombongan yang melakukan simulasi tawaf.
Saya pikir tadinya memang rombongan majlis taklim, karena rata-rata berseragam.
Kata menantu, tau gitu tadi ikut manasik. Padahal akhir Februari baru pulang umrah bareng suaminya. Biasanya memang gitu ya, ada rasa kangen, kalau pernah umrah/haji.
Pengunjung yang melakukan simulasi manasik ini ada yang dibimbing oleh petugas dengan rompi Plaza Haji AlQosbah yang membacakan doa-doa selama ritual untuk diikuti oleh peserta. Selain itu, ada juga yang kelihatannya memang rombongan majlis/KBIH karena dipimpin oleh seorang ustaz. Seperti kita ketahui, jemaah haji mulai diberangkatkan ke Tanah Suci pada bulan April ini.


foto depan replika Kaabah
Di ruang lain di Plaza Haji AlQosbah terdapat area penjualan suvenir dan juga tersedia kantin di lantai 1. Saya pun menyempatkan diri untuk naik ke lantai 2 untuk mengambil foto dari atas. Di lantai 2 juga terdapat bangku-bangku yang dimanfaatkan pengunjung untuk botraman dan makan bekal.


Penutup
Itulah piknik mendadak kami pada Minggu pagi yang lalu.
Gara-gara mau naik unta, saya jadi tahu ada bangunan baru di seberang Masjid Al Jabbar, Bandung. Bangunan Plaza Haji AlQosbah yang berfungsi untuk manasik umroh atau haji bagi siapa saja. Bangunannya sebetulnya sederhana, sebesar hanggar. Struktur bangunannya pun baja dan atapnya metal sheet, hanya desain tampak depan serta dinding luarnya yang dibuat menarik.
Interiornya pun tidak neko-neko, hanya diisi replika-replika sesuai keperluan manasik.
Bagi yang sudah pernah haji atau umrah, replika ini memang terkesan mainan. Tetapi saya memahami banget kerinduan sebagian besar umat Islam akan ke Tanah Suci, baik untuk umrah maupun haji. Di tengah antrean hingga puluhan tahun untuk pergi haji, ditambah suasana perang di kawasan Teluk Persia. Sehingga umrah pun was-was. Maka, adanya Plaza Haji AlQosbah seolah mengobati kerinduan ini. Tak heran, kalau rombongan yang berkunjung tidak hanya dari Bandung, tetapi juga berbus-bus dari luar kota.
Di lobi saya sempat tanya ke petugas yang memakai rompi “Tanya Saya”. Saya menanyakan skala replika Ka’bah. Kata petugas, 1:1. Saya bilang, kok asa kecil. Petugas juga engga yakin, karena belum pernah ke sana. Setelah googling, kata menantu, skalanya 1:2. Cocok sih, kalau replika dibanding aslinya 1:2.
Hari Minggu pagi sampai siang antrean masih mengular, terutama untuk naik unta. Tiket untuk naik unta ini, anak-anak Rp30 ribu, sedangkan dewasa Rp50 ribu.
Ada kuota. Jadi, dibatasi hanya 75-100 orang pada pagi hari, mulai pukul 09.00-11.00 pagi.
Lalu istirahat.
Ada lagi mulai pukul 13–15 siang.
Ya, kasihan sih, unta-nya dieksploitasi demi warga yang mau naik unta.
Waktu itu menantu kehabisan kuota, jadi batal, engga jadi naik unta. Gantinya, dia membeli wortel saja seharga Rp15 ribu untuk memberi makan unta.

Hari sudah menjelang lohor, maka kami merencanakan shalat lohor di Al Jabbar. Ke sananya naik odong-odong. Nanti saya cerita ya soal odong-odong ini.


Tinggalkan komentar