Masih cerita tentang wisata di Kabupaten Semarang, yaitu di Kecamatan Ambarawa, setelah jelajah Museum Kereta Api Ambarawa, lanjut naik Kereta Wisata Heritage, maka kami menuju Kampoeng Rawa Rawapening untuk makan siang di tepi danau.
Rawa Pening dan Legenda Cerita Rakyat

Kalau di peta Google, Rawa Pening letaknya tidak jauh dari kota Ambarawa. Malah ada jalan lingkar Ambarawa, ke jalan Jend. M. Sarbini, lalu belok ke jalan Khan Abdul Halim.
Rawa Pening kalau dari Wikipedia merupakan danau yang terbentuk di cekungan Ambarawa, di antara Ambarawa dan Salatiga. Kemungkinan terbentuk belasan ribu tahun yang lalu. Apalagi kan di sekeliling Danau Rawa Pening ada gunung-gunung, yaitu Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu.
Letaknya 463 m di atas permukaan laut, dan luasnya pernah 11.000 hingga 9.000 meter persegi, tetapi kemudian menyusut hingga mencapai ukurannya saat ini sekitar 6.000 meter persegi.
Seperti halnya banyak di daerah lain di Indonesia, suatu fenomena alam seringkali dikaitkan dengan legenda cerita rakyat setempat.
Begitu pula dengan Rawa Pening.
Konon Rawa Pening terbentuk karena seorang anak bernama Baru Klinting. Baru Klinting tadinya berujud naga, kemudian setelah bertapa menjadi anak manusia tetapi cacat dan berbau busuk. Setelah ditolak warga dan dicaci maki, Baru Klinting yang sakit hati mencabut sebatang lidi yang tertancap di tanah. Ketika dicabut, tersemburlah air yang akhirnya menenggelamkan desa.
Wilayah tersebut kemudian menjadi Rawa Pening, karena airnya yang sangat bening.
Bila teman-teman pernah tahu Candi Prambanan dan Kisah Bandung Bondowoso, yaitu seorang pemuda yang dikelabui oleh Roro Jonggrang. Roro Jonggrang mau menikahi Bandung Bondowoso, asalkan membuatkan 1000 candi. Dalam membuat candi dengan bantuan jin ini, konon airnya mengambil dari Rawa Pening.
Menurut legenda, Roro Jonggrang mengelabui Bandung Bondowoso dengan menitah dayang-dayangnya untuk menumbuk padi. Jin yang mengira hari menjelang pagi, berhenti membuat candi, padahal sudah candi ke 999. Bandung Bondowoso yang tahu ditipu, akhirnya mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca, yang kemudian menjadi candi ke-1000.
Apa itu Kampoeng Rawa

Ketika mendengar bahwa akan makan siang di Kampoeng Rawa, saya mengiranya akan makan di rumah penduduk di sebuah kampung, namanya Kampoeng Rawa.
Karena kata pemandu, di Kampoeng Rawa berhasil memberdayakan masyarakat di sekitar Rawa Pening.
Ternyata, Kampoeng Rawa Rawa Pening adalah sebuah restoran apung yang terletak di tepi danau Rawa Pening.
Bus kami tiba di area parkir, di salah satu sisi ada deretan los-los yang menjual aneka jajanan dan souvenir khas Rawa Pening.
Di ujung, di tepi danau terdampar deretan perahu-perahu untuk wisatawan yang berminat susur danau Rawa Pening.
Di sisi kanan itulah restoran apung Kampoeng Rawa.
Uniknya untuk mencapai restoran tersebut, kami harus menyeberang kira-kira sejauh 20 meter naik getek beratap.
Jadi ada tali tambang yang membentang antara tepi danau dan restoran. Seorang pemandu akan menarik tali tambang tersebut supaya getek bergerak maju. Kami tinggal berdiri tenang saja di atas getek tersebut.
Menu yang disediakan waktu itu sistemnya prasmanan, sepertinya koordinator memesan menu paket untuk peserta Field Trip.
Setelah makan siang dan salat lohor, saya dan beberapa teman ingin mencoba mengelilingi Rawa Pening naik perahu.
Sewa naik perahu waktu itu Rp10.000 per orang kira-kira antara 30 hingga 45 menit. Kata koordinator cukup waktu lah sebelum kami kembali ke Semarang.

Kami melalui semacam celah atau sungai kecil, berbelok, akhirnya sampailah ke Rawa Pening. Perahu bermotor tempel ini pelan-pelan membawa kami hingga agak ke tengah danau. Waktu itu tengah hari, sehingga kilauan matahari berpendar di permukaan air.
Awak perahu sesekali menjelaskan situasi danau, perjuangannya kejar-kejaran membasmi eceng gondok yang kalau dibiarkan akan menutupi seluruh danau.
Seperti kita ketahui, eceng gondok adalah gulma atau hama yang cepat sekali tumbuhnya.
Seingat saya, suami pernah cerita, ada kerajinan tas atau pernak-pernik rumah tangga yang terbuat dari daun eceng gondok yang dikeringkan.

Agak di tengah danau, tampak tiang-tiang bambu tertancap ke dasar danau. Kata awak perahu itu adalah branjang.
Branjang adalah metode tradisional penangkapan ikan yaitu dengan membentangkan jaring di antara tiang-tiang branjang, kemudian ditenggelamkan ke danau. Setelah beberapa hari, branjang diangkat dan diseret ke tepi danau untuk dipilih ikan-ikan tertentu untuk dikonsumsi atau dijual.

Metode menangkap ikan ini diwariskan turun-temurun sejak dulu di kalangan warga Rawa Pening dan menjadi mata pencaharian warga setempat.
Di sela-sela branjang kadang ada gubuk-gubuk kecil yang merupakan tempat bermalam penjaga branjang.
Penutup

Bila saya cek di IG-nya kampoengrawa.ambarawa, fasilitas wisata di Kampoeng Rawa lebih beragam dibanding ketika saya berkunjung ke sana bersama teman-teman.
Wisata perahu tetap ada, hanya kapasitasnya lebih besar, dan pengunjung diberi life jacket untuk safety. Engga kayak saya dulu, nekat naik perahu kecil pakai motor tempel, terombang-ambing di tengah danau.
Selain itu, restoran juga lebih berkembang dengan tambahan saung-saung apung yang berjajar di atas danau.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
https://dynamic-media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-o/0c/f7/f9/9d/wisata-apung-kampung.jpg?w=900&h=500&s=1
IG: kampoengrawa.ambarawa


Tinggalkan komentar