Pesona Kampoeng Heritage Kayoetangan di Kota Malang

Kami sudah lama menetap di Bandung, tetapi kalau ditanya asal-muasal suku, kami bukan asli Sunda. Suami kelahiran kota Malang, sehingga ketika pada suatu hari ada acara reuni sekolah, maka saya ikutlah ke Malang. Sekalian berkunjung ke keluarga yang ada di sana, dan saya ingin menyambangi pesona Kampoeng Heritage Kayoetangan, sebuah kawasan yang memiliki warisan sejarah perkotaan.

Sejak ditetapkan sebagai salah satu fokus wisata heritage kota, Kayutangan telah bertransformasi menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menapak tilas kejayaan masa kolonial Belanda hingga era kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Kayutangan

Kampoeng Heritage Kajoetangan berada di pusat Kota Malang, letaknya tidak jauh dari Balaikota dan alun alun Kota Malang. Kawasan yang masuk dalam Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen ini merupakan kampung tua di Kota Malang, kampung ini sudah ada sejak abad ke-13.

Area di sekitar sungai tersebut dahulu merupakan lahan subur dengan banyak pohon, termasuk pohon yang daunnya menyerupai jari tangan. Pohon tersebut dikenal dengan sebutan “Kayu Tangan,” yang kemudian menjadi nama kawasan ini.

Kampung Kayutangan menjadi sebuah destinasi wisata ditengah Kota Malang dengan mengusung konsep “heritage” yang banyak mengangkat unsur budaya, sejarah dan ekonomi.

Di kampung ini banyak berdiri rumah-rumah lama dan masih terawat kemudian di”sulap” menjadi spot/tempat jujugan wisatawan. Kawasan yang sudah dikenal sejak 1920 itulah yang mendasari kemudian dibranding menjadi “Kawasan Heritage Kajoetangan”.

Adapun tinjauan ekonominya adalah dengan melihat letak Kampung Kayutangan yang berada di tengah Kota Malang yang memiliki tiga atau lebih akses masuk diantaranya Jalan Basuki Rahmad, Jalan Semeru dan Talun, maka diharapkan akan memunculkan giat ekonomi di dalamnya.

Letak Kampung Kayutangan yang dikelilingi oleh belasan hotel ini juga merupakan “Selling Point” sebagai destinasi kuliner dan jujugan para wisatawan sejak 2018.

Revitalisasi Kawasan Kayutangan Heritage

Kampung Kayutangan adalah bagian dari sejarah awal perkembangan Malang. Kawasan ini terletak tepat di belakang kawasan utama (Jalan Basuki Rahmat) yang dulunya merupakan kawasan elit tempat tinggal pejabat Belanda. Namun, Kampung Kayutangan sendiri adalah area permukiman bagi masyarakat lokal dan pegawai rendahan kolonial.

Inisiatif Revitalisasi

Kebangkitan Kampung Kayutangan sebagai destinasi wisata berawal dari inisiatif komunitas dan didukung oleh Pemerintah Kota Malang. Tujuannya adalah melestarikan rumah-rumah kuno dan meningkatkan kesejahteraan warga melalui pariwisata berbasis budaya (community-based tourism).

Konsep Living Museum

Kampung Heritage Kayutangan mengusung konsep living museum atau museum hidup. Artinya, pengunjung tidak hanya melihat bangunan sejarah, tetapi juga menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan kehidupan sehari-hari warga yang masih mempertahankan rumah-rumah peninggalan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Malang gencar melakukan revitalisasi. Tujuannya adalah menghidupkan kembali kawasan ini tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.

Zona Pedestrian yang Ramah

Jalan-jalan di Kayutangan Heritage, khususnya area Kayutangan Corridor di Gang 4, telah diubah menjadi zona pedestrian yang nyaman. Trotoar diperlebar, pencahayaan diperbaiki, dan ditambahkan ornamen-ornamen yang mencerminkan era tempoe doeloe.

Kebangkitan Ekonomi Kreatif

Revitalisasi ini memicu kebangkitan ekonomi kreatif. Banyak rumah-rumah tua kini dialihfungsikan menjadi:

Kafe dan Restoran Tematik: Menawarkan suasana nostalgia dengan desain interior yang mempertahankan orisinalitas bangunan.
Galeri Seni dan Butik: Menjual produk lokal Malang dengan sentuhan modern.

Pengalaman Wisata di Kayutangan

titik masuk dari Gang 4

Pagi itu, berbekal cek google map, saya pun memesan grabride dari hotel untuk membawa ke Kampoeng Wisata Kayoetangan. Ternyata saya salah titik karena kurang teliti, dong, apalagi di map ada beberapa penanda gerbang masuk ke wilayah ini. Yawda, masuk saja, walaupun tidak menemukan loket pembayaran. Di internet ada info, kalau jelajah ke kampung wisata, tiket masuknya Rp5.000,-.

Begitu masuk gerbang, ada tangga turun ke bawah, sampailah di kanal dan ada jalan setapak. Jalan setapak di tepi sungai/kanal ini namanya promenade, bersih dan apik. Di dinding sepanjang sungai terdapat mural yang terlihat masih baru dan terawat.
Waktu itu ada seorang perempuan yang berjalan ala model di catwalk dan kameramen siap merekam semuanya. Spot-spot cantik di setiap sudut kawasan memang instagramable, sih…

promenade apik dan sesi foto

rumah hijau
rumah hijau

Saya pun masuk ke kampung ini, yang diresmikan menjadi Kampoeng Heritage Kayoetangan sejak tahun 2018.
Jalan setapak berlapis paving, rapi, dan bersih. Waktu itu masih pukul 7 pagi, warga kampung melakukan kegiatan seperti biasa. Ada ibu-ibu memasak, warga berangkat kerja, dan lain-lain.
Beberapa rumah bagian depannya beralih fungsi menjadi cafe, warung makan, gallery, bahkan workshop membatik. Saya datang terlalu pagi, sehingga cafe-cafe ini belum buka.

Di tiap perempatan jalan gang, ada petunjung arah, saya mau ke mana. Sambil jalan googling saja, mencari rumah-rumah yang menjadi ikon kawasan ini.

gerbang masuk resmi ada tiket box

Akhirnya setelah beberapa belokan saya menemukan gerbang masuk resminya yang ada loket tiketnya. Ternyata ini dari arah jalan Basuki Rachmat.
Bayar tiket pakai QRIS dan mendapatkan kartu pos bergambar “Rumah Penghulu“.
Ketika saya tanya di mana tempat sesuai di kartu pos, petugas menunjuk peta di sebelah ticket box.

Pesona Kampoeng Heritage Kayoetangan di Kota Malang
rumah penghulu

Kesanalah saya melangkahkan kaki, foto-foto beberapa rumah, termasuk “Rumah 1870” dan mural, lalu lanjut jelajah lagi.

Rumah 1870

mural dan makam Mbah Honggo

Menemukan “Makam Mbah Honggo“, tak jauh dari lokasi ini ada “Hamur Mbah Ndut“. Hamur, dalam bahasa walikan Malang, artinya Rumah.
Saya pun mampir untuk sekadar rehat dan minum teh jahe hangat.

Sebetulnya masih ada beberapa spot bangunan lama yang menjadi ikon, tetapi saya agak terburu-buru waktu itu. Next lah, kalau ke Malang lagi, jelajah lebih santai. Mungkin di sore hari, supaya mendapatkan kesan yang berbeda.

hamur mbah ndut
hamur mbah ndut

Penutup

Alihfungsi rumah dan penambahan piring nomor rumah agar terkesan vintage

Mengunjungi Kayutangan adalah pengalaman yang multisensori, menawarkan lebih dari sekadar pemandangan:

  • Fotografi Vintage: Setiap sudut Kayutangan, dari pagar besi tua hingga jendela berterali, adalah latar belakang sempurna bagi fotografi dengan nuansa vintage.
  • Edukasi Sejarah: Pengunjung dapat mengikuti tur jalan kaki (walking tour) untuk mendengarkan kisah-kisah di balik setiap bangunan, mulai dari kisah sosialita Belanda hingga perjuangan kemerdekaan.
  • Nostalgia Kuliner: Mencoba kuliner lokal di kafe-kafe yang berada di bangunan tua memberikan sensasi unik, seolah menikmati kopi di masa lalu.

Kawasan Kayutangan Heritage menjadi kawasan menarik untuk diteliti. Walaupun memang ada beberapa bangunan lama, tetapi ada juga bangunan baru yang diberi kesan vintage, dengan menambahkan ornamen-ornamen tertentu.

Sebuah kota memang tidak hanya dilihat dari gedung-gedung pencakar langit terbarunya, tetapi juga dari penghormatan terhadap jejak sejarahnya. Kayutangan adalah jantung Malang yang terus berdetak, memancarkan pesona nostalgia yang tak lekang oleh waktu.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

7 tanggapan untuk “Pesona Kampoeng Heritage Kayoetangan di Kota Malang”

  1. Avatar Dian Restu Agustina

    Sedetik saya heran, “rumah” bahasa walikan Malang jadi “hamur”, kenapa makam tetap makam…
    Terus nyadar , oiya, makam dibaca dari depan dan belakang ya tetap makam kwkwkwk
    Mba Hani, saya bakal betah jelajah ke sini, destinasi wisata unik yang penuh nilai sejarah dan budaya, pas untuk merasakan nostalgia, menikmati keindahan kota tua, sambil menikmati kuliner dan spot foto yang kekinian…

  2. Avatar Diah Woro Susanti

    Fix! Tempat ini emang ngasih vibes jadul yang seru. Aku juga pernah ke sana lho, kartu posnya masih aku simpen buat kenang-kenangan! Yang bikin betah itu nongkrong di kafe rumahannya, kerasa kayak balik ke masa lalu sambil buka majalah Gadis haha

  3. Avatar Nanik Nara

    Tiket masuk 5 ribu dan dapat kartupos, ini menjadi salah satu daya tariknya ya. Jadi walau pengunjung sudah pulang, tetap punya kenangan dai kampoeng heritage kayoetangan, selama kartu posnya masih di simpan.

    Saya malah belum pernah ke situ lho mbak. Niat pengen ngajak anak-anak kesana pas liburan, belum pas aja momennya sampai sekarang

  4. Avatar Annie Nugraha

    Duh tulisannya bikin saya kangen main ke Malang. Kota sekolah saat saya SMA nih Mbak. Banyak kenangan yang terukir di sini karena kebetulan ada beberapa teman sekolah yang tinggal di Kayoetangan. Sabtu pagi biasanya saya suka mampir ke sini dan makan di beberapa warung sederhana yang ada di sana. Saya lupa namanya. Tapi yang pasti masih menggunakan bangunan warisan Belanda.

    Lihat perubahan-perubahannya, saya jadi takjub. Keputusan bijak Pemda Malang yang begitu jeli melihat banyak titik wisata yang bisa dinikmati publik. Sungai yang melewati perkampungan juga dibuat bersih ya. Kita jadi nyaman keliling ke sana kemari.

  5. Avatar Maria G Soemitro

    wah pinginnn……
    Terakhir ke Malang sewaktu ikut Indonesia Community Day nya Kompasiana

    keliling Malang pakai bus tingkatnya (Bandrosnya Malang), kok mirip kota Bandung ya?

    jadi pingin ke sini lagi, wajib masuk list nih kampoeng heritage kayoetangan

  6. Avatar Yuni Bint Saniro

    Berasa banget jadulnya. Kayak estetik gitu lho. Kalau jalan ke sana, kayaknya aku bakalan merasa vibesnya kembali ke masa lalu.

    Jadi pingin masuk ke Hamur Mbah Ndut.

  7. Avatar Matius Teguh Nugroho

    Kawasannya apik dan menarik, teh. Agak mirip dengan kawasan pemukiman yang ada di sekitaran Keraton Jogja. Cuma menurut saya, nggak usah ada harga tiket masuk sih, meski tak seberapa. Kenapa ya, di negara kita itu apa-apa harus ada tiket masuk. Di negara-negara tetangga, kawasan seperti ini ada banyak dan bisa leluasa dikunjungi. Warga mendapat untung secara tak langsung dari wisatawan yang membeli makan, menginap, atau servis lainnya.

Tinggalkan komentar