Waktu itu kami dalam perjalanan kembali ke kota Semarang, setelah suatu siang keliling kota Salatiga. Di jalan, driver mobil rental menawarkan mampir ke Pulutan Fresh Farm, sebuah peternakan kambing perah di Desa Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.
Begitu ke luar kota Salatiga, sebelum masuk jalan tol, belok kiri, kira–kira 15 menit perjalanan, kami sampai di depan sebuah gerbang.
Sebelumnya Mas Kris, driver rental memang sudah menelpon temannya pemilik peternakan kambing perah, bahwa dia membawa customer yang mau mampir ke Pulutan.
Tentang Peternakan Kambing Perah


Setelah membuka gerbang, Mas Kris pun memarkirkan kendaraannya dan mempersilakan kami menunggu di sebuah teras dengan dipan kayu. Ada meja kecil di depannya.
Saya pun minta izin masuk ke dalam untuk melihat-lihat dan membuka sebuah lemari es box. Di dalamnya tertata susunan plastik-plastik berisi susu kambing frozen dan sudah diberi tanggal.
Seorang bapak berperawakan kokoh ke luar dari dalam dan menyapa kami dengan ramah. Namanya pak Sardjono.
Beliau menawarkan apakah kami mau mencicipi susu kambing segar dingin.
Tentu saja tawaran yang sayang untuk ditolak.
Pak Sardjono pun sejenak masuk ke dalam dan membawa sebuah baki yang di atasnya jug besar berisi susu dan deretan gelas kecil. Beliau pun menuangkan susu ke gelas-gelas tersebut.
Di antara semburat sinar matahari yang mulai condong di barat, seteguk demi seteguk susu dingin ini teras manis dan gurih.
Saya pun mencecapnya pelan-pelan, soalnya belum pernah minum susu kambing tanpa bau prengus kayak gini. Kok bisaaa…

Kata pak Sardjono, kami beruntung, karena sebentar lagi adalah waktu memerah susu, jadi kami nanti akan diajak ke kandang untuk melihat proses memerah tersebut.
Pak Sardjono, adalah seorang mantan pekerja migran pada sebuah perusahaan gas di Azerbaijan, sepulangnya dari negeri nun jauh, mencoba berbagai usaha di Indonesia.
Kira-kira tahun 2017 mencoba menggeluti peternakan kambing perah. Jatuh bangun membangun peternakan kambing tentunya tidak mudah. Sempat rugi besar, karena salah mengambil jenis kambing, yang ternyata tidak menghasilkan susu sama sekali. Tetapi hal tersebut tak membuatnya patah semangat.
Sampai akhirnya beliau mendapatkan satu jenis kambing tertentu yaitu kambing jenis Sanen, yang menghasilkan susu perah premium.
Kambing-kambingnya sekarang ada sekira 100-an kambing dan pejantannya kalau tidak salah hanya 3 atau 4 ekor.
Sama halnya dengan semua hewan mamalia, tentu saja mereka bisa menghasilkan susu setelah melahirkan anak kambing. Selama masa menyusui anak kambing inilah susu induknya juga diperah oleh manusia.
Menurut Pak Sardjono, hasil perahan susu dari Pulutan Fresh Farm dikhususkan untuk pabrik susu kambing bubuk, jadi tidak dijual bebas. Tetapi kalau ada yang membutuhkan bisa saja memesan dan membeli secara personal.
Saya iseng tanya, bagaimana kalau kambingnya sudah tidak produktif, apakah disembelih?
Ternyata tidak ada di kamus Pak Sardjono menyembelih kambing yang tidak produktif. Biasanya dijual saja, ke yang mau beli. Beliau tidak tega menyembelih kambing yang sudah “menghidupi” keluarga yang merawatnya.
Proses Pemerahan Susu Kambing

Ketika tiba waktunya memerah susu, kira-kira pukul 15:30 kami diajak ke belakang, ke area kandang-kandang.
Kami melewati gerbang kedua, yang ternyata itu adalah area desinfektan. Untuk menjaga agar kambing-kambing tidak tertular berbagai virus dan penyakit, maka orang luar biasanya disemprot dulu.
Tapi waktu itu kami aman-aman sih, engga pake disemprot.
Kami melalui kandang-kandang depan yang berisi beberapa anak-anak kambing. Kemudian belok kiri ada kandang lebih besar yang didesain terbuka dan model panggung.
Memang aura kandangnya bersih banget sih, tidak bau kandang sama sekali. Udara pun mengalir baik, lantai kandang dari kayu juga kering.
Di salah satu sisi kandang, ada semacam panggung setinggi dada kita terbuat dari plat baja. Ada ramp yang mengarah panggung dari jalur berpagar kayu.
Salah seorang staf Pulutan Fresh Farm memanggil kambing dan mereka ini dengan lulut naik ke ramp, balik badan, siap untuk diperah susunya.
Kata staf di sana, para kambing ini pinter, sudah tahu kapan susunya harus diperah, jadi beriringan menuju ke tempat pemerahan.

Ada seorang staf yang pinter banget memerah, jadi tidak memakai mesin. Susu hasil perahan tersebut ditampung di ember, kemudian disaring di ember susu khusus, dan dicatat.
Catatan berupa buku besar dengan kolom-kolom menunjukkan nama kambing, waktu pemerahan, dan volume susu.
Waktu pemerahan biasanya pagi dan sore.

Sesudah puas mengamati pemerahan, kami pun di ajak keliling seluruh area kandang.
Ada salah satu area yang dipakai khusus mengolah pakan kambing.
Pakan kambing di Pulutan Fresh Farm diracik khusus, dari jenis rumput dan tanaman hijau tertentu. Saya lupa nama rumputnya.

Di salah satu pojok kandang ada kambing pejantan besar banget, leyeh-leyeh tidur sore. Sepertinya sih kambing bandot…haha…soalnya jenggotan…L.O.L…
Melewati lagi beberapa kandang berisi anak kambing dan kami pun jalan menuju ke area desinfektan, kembali ke teras rumah.
https://www.instagram.com/p/DDjDeKPyUZ2/Penutup

Pengalaman melihat peternakan kambing perah ini sangat menarik. Boleh dibilang merupakan salah satu jalan menambah asupan protein buat kita kan. Apalagi menurut informasi kesehatan, susu kambing kaya akan kalsium, protein, vitamin B kompleks, dan mineral lainnya yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Bagi yang intoleran laktosa susu sapi, susu kambing bisa menjadi alternatif pengganti.
Kata Pak Sardjono ada beberapa lansia yang langganan susu kambing dari peternakannya, untuk menyembuhkan sakit lutut dan maag.
Ketika kami masih lanjut ngobrol-ngobrol, datang serombongan anak muda dari Boyolali, khusus datang ke Salatiga untuk belajar ternak kambing perah ke Pak Sardjono. Seperti kita ketahui Boyolali lebih dikenal sebagai kota peternakan sapi.
Saya kagum dengan semangat generasi muda ini berani mencoba usaha baru yang belum banyak dilirik orang. Apalagi kata pak Sardjono, ternak kambing modalnya tak sebesar ternak sapi.
Semoga bermanfaat.


Tinggalkan komentar