kawasan kota lama semarang

Kota Semarang yang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah, memang memiliki sejarah panjang sejak zaman Mataram Islam, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dan masa kini. Di wilayah utara kota yaitu di Kawasan Kota Lama Semarang sekarang menjadi objek wisata populer di kota Semarang. Bila kita naik kereta api dan turun di Stasiun Tawang, Semarang, tinggal jalan kaki menyeberang polder (kolam retensi) menuju jalan Cendrawasih, sampai deh…

Sejarah Kota Lama Semarang

peta lama kota lama semarang
peta kuno kota lama semarang

Kawasan Kota Lama Semarang menilik catatan sejarah, dulunya disebut sebagai Little Netherlands. Lahan Kota Lama Semarang merupakan hadiah dari kerajaan Mataram pada VOC yang membantu menggagalkan pemberontakan Trunojoyo, 15 Januari 1678.

VOC kemudian membangun benteng berbentuk segilima yang dinamakan Vijfhoek. Di dalam banteng awalnya diperuntukkan sebagai permukiman orang Belanda seluas 31 hektare dan agak terpisah dengan daerah sekitarnya. Tembok yang mengelilingi banteng kemudian dibongkar dan menjadi jalan bernama Westerwaalstraat, Zuiderwalstraat, Oosterwalstraat dan Noorderwalstaat.

Sekarang nama-nama jalan di atas menjadi Jalan Mpu Tantular, Jalan Kepodang, Jalan Cendrawasih, dan Jalan Merak. VOC juga membuat jalan utama yang diberi nama Heeren Straat, sekarang menjadi Jalan Letjen Soeprapto.

Masih ada ratusan bangunan sisa zaman pemerintahan Hindia Belanda yang bisa kita temui di kawasan Kota Lama Semarang. Ciri-ciri bangunan yang dibangun sekitar tahun 1700-an terlihat jelas dari bentuk atap, jendela-pintu, dan ornamen.

kawasan kota lama semarang
gereja Blenduk, sumber foto: Troppen Museum

Walking Tour di Kawasan Kota Lama Semarang

Pertama kali saya menyambangi kawasan ini ketika ikut suami ke Semarang. Selama dia ada keperluan pekerjaan, saya jalan-jalan saja ke Kota Lama Semarang. Waktu itu hanya Gereja Blenduk dan area sekitarnya saja yang sudah rapi dan bisa kita kunjungi.

Gereja dibangun tahun 1753 oleh pendeta Johanennes Wihelmus Swemmelaar, tampak berbeda karena bentuknya yang unik. Tidak ada halaman di sekelilingnya, dari tepi jalan langsung ke pintu masuk gereja. Dinamakan Gereja Blenduk karena bentuknya yang bulat gelembung, padahal aslinya bernama Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel.

gereja blenduk
gereja Blenduk, sumber: hani

Di samping Gereja Blenduk, ada Taman Srigunting, ada bangunan lama juga di belakang taman. Lalu ada Pasar Antik Semarang, tempat kalian bisa membeli barang kuno dan antik, mulai dari pajangan hingga elektronik.

Lebih jauh ke utara menuju stasiun, banyak bangunan tua tak terawat dan menimbulkan kesan seram. Pada beberapa bangunan malah telah ditumbuhi pohon yang terlihat akarnya sudah mencengkeram ke dinding bangunan.

Sebuah bangunan sudut terlihat berlumut dan di depannya terparkir truk-truk barang. Kota Semarang terletak di tepi laut, maka kawasan ini tak jauh dari pelabuhan, sehingga beberapa bangunan kemudian menjadi gudang.

der spiegel tahun 2011
gedung Spiegel, tahun 2011, sumber: hani
der spiegel
Spiegel, tahun 2019, sumber: hani

Belanda menamakan daerah ini Little Netherlands (Belanda Kecil), meniru sistem transportasi melalui kanal-kanal seperti di kota-kota di negara aslinya. Banyak bangunan yang orientasinya ke arah tepi kanal, bahkan bisa dicapai langsung melalui tangga dari tepi sungai.
Sekarang sudah tidak ada, karena jalan yang ditinggikan dan sistem transportasi melalui sungai juga sudah tidak dipakai lagi.

Kota Semarang menjadi contoh menarik sebagai daerah pantai yang dirancang lengkap oleh pemerintah Hindia Belanda. Bagian utara sebagai kawasan pelabuhan dan perdagangan, sedangkan bagian selatan yang merupakan perbukitan menjadi daerah perumahan dan peristirahatan. Sayangnya banjir rob yang sering terjadi di bagian utara Semarang membuat bangunan-bangunan lama tersebut menjadi lapuk.

Revitalisasi Kota Lama Semarang

Sejak tahun 2017 pemerintah kota pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akhirnya menggelontorkan total anggaran Rp183 miliar untuk merevitalisasi kawasan Kota Lama Semarang.

Ratusan bangunan yang semula kumuh tak terawat bahkan dinding bangunan ditumbuhi pohon, menjadi rapi dan difungsikan kembali.

Untuk mengendalikan banjir rob, dibangun polder di depan Stasiun Tawang agar banjir cepat surut. Jalan-jalan pun bukan dilapisi aspal tetapi conblock yang membantu mempercepat banjir cepat meresap ke dalam tanah. Perbaikan jalan dan memperdalam gorong-gorong dilakukan hampir di seluruh kawasan.

polder
polder depan stasiun Tawang, sumber: hani

Revitalisasi selain memperbaiki fisik jalan raya dan trotoar juga menambahkan jaringan utilitas berupa listrik, PDAM, telepon, bangku-bangku duduk, pembatas pejalan kaki, dan kantong- kantong parkir.

Ketika saya dan teman-teman kemudian ke Semarang lagi beberapa tahun sesudahnya, proses revitalisasi besar-besaran sedang dilakukan oleh pemerintah kota Semarang.
Kami sempat mendengarkan paparan dari konsultan yang melakukan revitalisasi tersebut.

Menurut konsultan, masalah terbesar sebelum dilakukan revitalisasi adalah persuasi ke “penguasa” kawasan, bukan ke pemilik bangunan. Penguasa (baca = preman) wilayah pelabuhan ini lah justru yang membuat para pemilik tidak nyaman sehingga membiarkan saja bangunan miliknya menjadi lapuk.

Walikota Semarang pada tahun 2012 kemudian mengeluarkan Piagam Komitmen Kota Pusaka, yang mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyelamatkan Kota Lama Semarang. Keterlibatan pemilik gedung memang sangat penting, karena dari 245 bangunan di kawasan tersebut, 177 bangunan milik perorangan dan 68 bangunan milik swasta.

Berkat ajakan pemerintah kota Semarang, ternyata berhasil menggugah sebagian besar pemilik bangunan. Mereka merenovasi bangunan lama tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi restoran, café, ruang pamer, gallery, kantor, museum, dan lain-lain.

Pemerintah kota Semarang bahkan memberi kebijakan berupa keringanan pajak 50% bagi pemilik gedung lama yang bersedia memperbaiki dan merawat gedungnya.

Penutup

gedung tua
proses renovasi, sumber: hani

Sebagai kota pantai, jalan-jalan di Kota Lama Semarang enak dilakukan pada pagi hari atau petang, karena kalau siang panasnya engga kuat. Bila akhir pekan tiba, kawasan Kota Lama Semarang semakin hidup pada malam hari dan enak buat jalan-jalan.

Kalian bisa ke museum atau gallery di bangunan-bangunan lama yang telah mengalami renovasi.
Beberapa restoran, cafe, dan gellato menambah semarak kawasan ini yang tetap ramai hingga malam hari. Contohnya, di jalan utama kawasan, yaitu Jalan Letjen Soeprapto, begitu masuk di ujung ada Filosofi Kopi, Tekodeko Koffiehuis, Gelato Mateo, Soto Seger Kota Lama, Spiegel Bar & Bistro, Spiegel Café, Sate & Gule Kambing 29 Gereja Blenduk, dan Ikan Bakar Cianjur.

Semoga bermanfaat.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar