Setelah kisah saya yang bikin merinding dan suram dalam rangka Dark Tourism Site ke Tuol Sleng dan Choeung Ek, kita ke tempat-tempat yang cerah saja.
Menurut itinerary selama di Kamboja, kami akan dua hari di Siem Reap dan dua hari di Phnom Penh. Di ibukota Kamboja ini ada Istana Raja (Royal Palace), Pasar (Central Market), Museum, dan lain-lain. Oh ya, jangan lupa kemana-kemananya naik Tuk-tuk, dong.
Sekilas Sejarah Kamboja
Sengaja saya ulas sedikit sejarah Kamboja, karena nantinya berkaitan dengan obyek-obyek yang telah dan akan kami kunjungi sampai pulang ke Indonesia.
Di hari pertama dan kedua kami ke Siem Reap, sebuah kawasan wisata berupa kota lawas Angkor Wat, Taman Arkeologi Angkor, candi-candi dan sisa peradaban bangsa Khmer.
Di Phnom Penh, hari pertama kami ke Tuol Sleng dan Choeung Ek, bagian dari sejarah rakyat Kamboja, di mana kekejaman perang menyisakan duka mendalam. Keesokan harinya kami mau ke Royal Palace, istana megah tempat tinggal Raja, museum lalu pasar.
Kan, seolah dari satu tempat ke tempat lain, enggak nyambung, padahal masih di satu negara.
Kamboja luasnya 181.035 km2 , berbatasan dengan Thailand, Laos, dan Vietnam.
Dulunya di abad 9 hingga abad 13 Masehi, Kamboja merupakan kerajaan bernama Khmer, dengan pusatnya di Angkor Wat. Kemudian di awal abad 15, Khmer dikuasai oleh Kerajaan Thai.
Pada tahun 1863, Raja Norodom yang dilantik oleh Thai mencari perlindungan ke Perancis. Sejak 1863 hingga 1953, wilayah ini kemudian bernama Kamboja menjadi daerah koloni Perancis di Indochina.
Kamboja kemudian memperoleh kemerdekaan dari Perancis di tahun 1953, dengan rajanya Norodom Sihanouk.
Pada saat perang tahun 1960-an di Vietnam, Kerajaan Kamboja memilih netral. Hal ini ternyata dimanfaatkan oleh petinggi militer yang menyingkirkan Norodom Sihanouk dari tahtanya.
Dari sinilah kemudian perang saudara berkecamuk. Hingga Khmer Merah menguasai negara di tahun 1975 dipimpin oleh Pol Pot dan mengubah format negara menjadi Republik Demokratik Kamboja.
Sistem pemerintahan Pol Pot adalah mengosongkan perkotaan dan memindahkan warganya ke pedesaan untuk bertani.
Tahun 1978, Vietnam menyerbu RD Kamboja untuk menghentikan genosida besar-besaran. Baru di tahun 1989, PBB mulai gencar memprakarsai perdamaian dan gencatan senjata, dan Norodom Sihanouk kembali berkuasa.
Sekarang sistem pemerintahan di Kamboja merupakan parlementer, dengan Rajanya Norodom Sihamoni, putra Norodom Sihanouk.
Itulah sekilah sejarah yang saya sarikan dari wikipedia.
Sekarang yuk jalan-jalan ke beberapa obyek wisata di Phnom Penh.
Royal Palace

Royal Palace di kota Phnom Penh merupakan kompleks istana seluas 174.870 m2 (402 X 435 m) yang sudah mengalami renovasi berkali-kali. Kompleks ini menghadap ke Timur ke arah pertemuan sungai Tonle Sap dan sungai Mekong.
Tidak seluruh bangunan bisa dikunjungi oleh turis. Di peta dapat kita lihat rute dan jalur yang bisa dilalui turis sejak pintu masuk hingga pintu keluar.
Awalnya bangunan istana merupakan bangunan kayu yang dibangun tahun 1863. Istana Kerjaan pertama dirancang oleh arsitek Neak Okhna Tepnimith Mak dan dibangun oleh Protektorat Prancis pada tahun 1866.
Dari segi gaya arsitektur tampak campuran antara arsitektur Khmer dan detail arsitektur Eropa pada masanya.
Dalam perjalanan waktu, beberapa bangunan ditambahkan, diganti, dan direnovasi.
Bangunan yang boleh dikunjungi turis adalah Throne Hall, Moonlight Pavilion, dan Silver Pagoda. Waktu itu kami hanya memasuki Throne Hall (Balairung Singgasana), tempat Raja dinobatkan. Tak banyak yang bisa saya share, karena kami tidak boleh memotret di dalam gedung ini.

Oleh sebab itu kami lebih banyak berkeliling saja di kompleks istana ini.
Area privat tempat tinggal raja merupakan area tertutup. Kita bisa melihat penanda bahwa raja ada di istana adalah dengan melihat bendera. Bila bendera berkibar, artinya raja ada di tempat.
Waktu kunjung kompleks istana terbatas, tiap hari dari pukul 08:00 – 10:30 kemudian tutup, buka lagi pukul 14:00 – 17:00. Bila ada acara di Istana misalnya hari raya nasional setempat, maka Istana ditutup untuk pengunjung.
Tiket masuk $6.50.
National Museum of Cambodia
Letaknya tak jauh dari Royal Palace, bisa ditempuh jalan kaki, merupakan bangunan megah berwarna merah bata (terracota). Dibangun tahun 1917-1920 yang merupakan museum untuk menyimpan koleksi zaman kejayaan bangsa Khmer.
Bila kita berkunjung ke Museum, akan diarahkan mengikuti alur sesusai zamannya. Patung-patung dan temuan dari abad ke 5-8 Masehi. Kemudian temuan-temuan berbahan perunggu yang beberapa ditemukan di Angkor Wat.
Walaupun mayoritas rakyat Kamboja beragama Buddha, temuan-temuan yang ada menunjukkan adanya jejak agama Hindhu.
Sama halnya di Royal Palace, di sini pengunjung dilarang memotret benda-benda yang dipamerkan.
Waktu berkunjung Museum pukul 08:00-17:00, harga tiket $15.
Central Market

Central Market sebetulnya bukan obyek wisata. Merupakan bangunan pasar loak, pasar perhiasan, baju dan aneka suvenir, kerajinan serta tenun Kamboja.
Bentuk bangunannya unik berbentuk kubah besar, hasil desain arsitek Perancis bernama Jean Desbois. Tahun 1935 mulai dibangun dibawah pengawasan arsitek Perancis, Louis Chauchon, sedangkan ahli strukturnya Wladimir Kandaouroff, berkebangsaan Rusia.
Ketika perang antara Perancis dan Thailand, bangunan ini mengalami kerusakan parah, dan kemudian dibangun ulang.
Tahun 2009-2011 direnovasi dengan bantuan dana dari pemerintah Perancis.
Area lokasi pasar sebelum tahun 1935 adalah danau atau embung untuk menampung limpahan air kala musim hujan. Area ini kemudian diurug untuk membangun pasar. Di kemudian hari keputusan ini bukan keputusan yang bijak, karena justru menyebabkan banjir. Waktu kami ke sini sempat juga merasakan banjir akibat hujan.

Sebetulnya ada lagi pasar yang kami kunjungi. Dari segi desain dan bentuk bangunan mirip pasar Inpres di Indonesia. Panas dan terdiri dari deretan los-los. Kami ke sini ditemani oleh Meiti, yang mempunyai langganan menjual kain tenun sutra khas Kamboja. Katanya, sih, harganya lebih miring daripada di Central Market. Berhubung setengah dari rombongan adalah ibu-ibu, ya chap cus lah kami ke pasar ini.


suasana pasar
Penutup
Ada yang menarik selama jalan-jalan di Phnom Penh ini, ke Istana Raja (Royal Palace), Museum, maupun ke pasar, ini kami menggunakan tuk-tuk. Bentuknya mirip andong, tetapi ditarik motor. Kapasitas bisa 4 hingga 6 orang.


Pengemudi tuk-tuk hampir semua tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami bilang saja mau kemana-mananya, tarifnya dibandrol jauh-dekat sama sih.
Akibat perang dan genosida yang membunuh warga berpendidikan, dampaknya masih tersisa. Sepulang dari pasar, catatan kecil alamat hotel dibolak-balik pengemudi tuk-tuk, karena buta huruf.


Tinggalkan komentar