Masjid Merah Panjunan, Cirebon

Masjid Merah Panjunan, Cirebon, terletak di sudut jalan Panjunan/Kenduruan, Kecamatan Lemahwungkuk, kota Cirebon. Masjid ini sudah sangat tua, didirikan tahun 1480 M. Bila dihitung, usia masjid tersebut sudah lebih dari 500 tahun.

Disebut Masjid Merah atau Masjid Abang, karena warna merah dari dinding bata yang menjadi material utama masjid. Sementara nama Panjunan berasal dari kata anjun yang berarti tanah liat atau gerabah.

Pendirinya adalah Syarif Abdurrahman al-Baghdadi atau Pangeran Panjunan. Menilik namanya, beliau memang berasal dari Bagdad-Iraq, imigrasi ke Indonesia bersama saudaranya dan berguru agama Islam ke Sunan Gunung Jati. Beliau selain mengajarkan agama Islam juga mengembangkan kerajinan gerabah yang terkenal di masa Kesultanan Cirebon.

Begitu kita sampai di lokasi, terlihat bahwa Masjid Merah Panjunan dikelilingi oleh pagar bata merah setinggi 1.5 meter dengan ketebalan 40 cm. Untuk masuk ke area masjid harus melalui gapura yang berbentuk mirip candi Hindu-Buddha. Di dinding pagar berdiri papan nama bahwa Masjid Merah Panjunan merupakan bangunan cagar budaya.

Pengertian Cagar Budaya

masjid merah panjunan, sumber: wikipedia

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan Kawasan cagar budaya di darat dan/atau air yang perlu dilestasikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, Pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

Jadi Masjid Merah Panjunan ini telah dilindungi oleh UU no 11 tahun 2010 dari bahaya kepunahan dan harus dilestarikan.

Arsitektur Masjid Merah Panjunan

gerbang masuk masjid
gerbang gaya hindu

Walaupun sebetulnya Masjid Merah Panjunan bukan objek wisata, berbeda dengan Keraton-keraton di Cirebon, tetapi kita boleh kok berkunjung ke sana, sambil mempelajari sejarah budaya serta bentuk arsitekturnya.

Masjid Panjunan semula bernama Musholla Al-Athyah, seluas 40 meter persegi, namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan.

Awalnya masjid ini merupakan tajug atau musholla sederhana, karena lingkungan tersebut adalah tempat bertemunya pedagang dari berbagai suku bangsa.

Pintu masuk ke halaman masjid ada di sisi jalan kecil, di jalan Panjunan.
Begitu melangkah ke halaman masjid hanya seluas 10 X 1 meter. Selanjutnya ada beberapa ruangan, di antaranya ruang shalat utama, serambi, tempat wudhu, dan serambi serta bilik tambahan di sisi selatan masjid.
Setelah mushola ini berkembang menjadi masjid, luasnya menjadi 150 meter persegi.

ruang serambi untuk shalat
atap serambi
atap serambi

Bentuk denah berupa empat persegi panjang dan terbagi menjadi ruang shalat utama dan serambi.

Untuk memasuki ruang shalat utama dari serambi timur, terdapat pintu gerbang yang sehari-hari juga dimanfaatkan sebagai mihrab. Ada pintu yang sangat kecil di antara gerbang yang berbentuk gapura.

gerbang ke ruang shalat utama hiasan piring keramik

Bila akan melewatinya kita harus menunduk sebagai tanda kerendahan hari kepada Allah swt. Ruang shalat utama juga bisa dicapai dari sisi selatan, area serambi selatan. Satu pintu lainnya terdapat di sisi utara dari tempat wudhu.

Ada dinding pembatas setinggi 1.5 meter antara ruang shalat utama dan serambi timur. Dinding pembatas ini pun terbuat dari susunan bata merah yang cukup tebal.

Konon, teknik membangun dinding bata merah ini tanpa menggunakan semen atau bahan perekat lain, tetapi hanya dengan cara menggesekkan batu satu sama lain hingga menempel. Dinding yang dibangun dengan teknik ini dikenal nama kuta kosod.

Untuk menjaga kelestarian Masjid Merah Panjunan, ruang shalat utama yang beratap tajug tumpang dua ini hanya dibuka setahun dua kali, yakni saat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Berbeda dengan masjid pada umumnya, di Masjid Merah Panjunan tidak dilaksanakan shalat Jumat. Adapun shalat Jumat dipusatkan di Masjid Agung Sang Ciptarasa di lingkungan Keraton Kasepuhan.

Sehari-sehari kita hanya bisa shalat di serambi yang beratap bentuk limasan, maka gapura berpintu kayu pun menjadi mihrabnya. Adapun mihrab utama berwarna putih dengan bagian atas berbentuk relung setengah lingkaran.

Struktur Atap Tajug

atap tajug di atas ruang shalat utama

Walaupun ruang shalat utama tidak dibuka, kita masih bisa mengamati kemegahan struktur atap tajug payung agung yang megah.

Strukur atap ini ditopang oleh 4 buah sakaguru dari kayu jati berpenampang lingkaran dengan ornamen di bagian bawah serta ornamen susunan kayu di bagian atas. Atap tajug atau susun ini sering kita jumpai pada arsitektur tradisional Jawa dan juga pada Masjid Mula Demak.

Kolom-kolom penopang struktur tajug dihubungkan oleh balok-balok melintang, kemudian tampak susunan kasau berjajar rapi memuncak di bagian tengah. Penutup atap dulunya terbuat dari genteng berwarna hitam. Tetapi sekarang sudah direnovasi memakai material baru.

tempat bedug

Penutup

Keunikan gaya arsitektur Masjid Merah Panjunan ini terletak di gabungan berbagai budaya yang berkembang saat itu. Ada tiga unsur budaya, yaitu Hindu-Buddha, Islam, dan Cina.

Gaya ornamen Cina dikenali dari beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding. Konon piring-piring keramik ini merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio. Keunikan lainnya adalah, di masjid ini menentukan waktu shalat masih dengan cara melihat bayangan matahari yang dinamakan istiwaq.

Bagaimana, menarik, bukan? Kalau teman-teman akan berwisata religi mengunjungi Masjid Merah Panjunan, lokasinya tak jauh dari jalan raya Karanggetas, kemudian masuk ke dalam gang sepanjang 100 meter.

Mencarinya mudah, karena areanya sering disebut Kampung Arab atau Kampung Wali dan masih banyak bangunan lama di sekitarnya. Kalau pengrajin gerabah yang dulu merupakan ciri khas setempat sudah sulit dijumpai. Mungkin tersisa hanya satu atau dua saja rumah pengrajin gerabah tersebut.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar