Beberapa tahun yang lalu, saya ikut ke Penang, dalam rangka suami ada kerjasama Universiti Sains Malaysia dengan universitas di Bandung, tempatnya mengajar.
Sebisa mungkin kami memanfaatkan waktu disela-sela melakukan kunjungan kerjasama dan wisata tipis-tipis. Kami penasaran ingin blusukan walking tour untuk mencari gambar-gambar karya Ernest Zacharevic yang dikenal sebagai Penang Street Art.
Apa itu Street Art
Street art sendiri artinya seni jalanan, yaitu bentuk seni visual yang diciptakan dan ditampilkan di lokasi publik untuk visibilitas publik, memanfaatkan dinding bangunan, trotoar, jembatan, tiang listrik, kereta api, dan berbagai permukaan lain di ruang publik sebagai kanvasnya.
Kita mungkin sering lihat juga grafiti asal-asalan yang dilakukan anak geng motor yang boro-boro indah, malah sebuah vandalism, karena merusak kebersihan dinding.
Di Bandung, kalau kalian jalan melalui jalan Siliwangi, terdapat mural yaitu bidang dinding sepanjang ratusan meter yang digambari aneka warna dan ilustrasi.
Nah, kalau street art lebih spesifik, tidak selalu di bidang dinding yang besar. Mungkin saja hanya selebar pintu, seukuran tubuh manusia, bahkan anak-anak.
Sejalan dengan ditetapkannya George Town sebagai Kawasan UNESCO World Heritage di pulau Penang tahun 2008, maka pemerintah setempat memanfaatkan kawasan bangunan lama yang banyak bertebaran di sana.
Sejarah Penang Street Art
Penang Street Art ini menurut beberapa informasi media, dimulai tahun 2010, ketika seorang seniman asal Lithuania bernama Ernest Zacharevic didaulat untuk menorehkan karyanya di dinding-dinding pelosok jalanan di George Town. Waktu itu bertepatan dengan Festival George Town pada tahun 2012, sebanyak 6 hingga 8 karyanya menghiasi lorong-lorong jalanan.
Belakangan ada beberapa artis lokal yaitu Louis Gan and Vincent Phang turut menorehkan karyanya di dinding bangunan di George Town. Termasuk juga seorang seniman Rusia bernama Julia Volchkova dengan beberapa karya yang melengkapi Penang Street Art.
Konon total karya para artist di pelosok George Town ini ada lebih dari 60 karya lukisan dan mural.
Jalan-jalan Menikmati Penang Street Art
Rencananya hari itu suami ada temu janji dengan temannya sebelum lohor, jadi kami punya waktu jelajah kawasan selepas sarapan.
Lagi-lagi kami naik grab dan minta diturunkan di Penang Street Art. Sebetulnya sih, tidak ada petunjuk “di sini loh” Penang Street Art, karena karya-karyanya tuh bertebaran di lorong dinding tua.
Jadi kami diturunkan di sudut jalan tak jauh dari sebuah masjid kuno bernama Masjid Melayu Lebuh Acheh. Konon adalah masjid peninggalan saudagar Aceh di akhir tahun 1700-an.
Kami pun jalan santai saja menyusuri jalan dan menemukan lukisan seorang anak berdiri jinjit di atas kursi.


Masjid Melayu Lebuh Acheh dan lukisan anak kecil
Waktu itu kami mencari karya-karya sedapatnya sih, mengandalkan peta Google yang menuliskan titik-titik tempat lukisan itu berada.
Berlanjut ke spot berikutnya yaitu “Boy on a Bike”, berupa lukisan anak laki-laki yang sedang menunggu di atas motornya. Sepeda motornya sepeda motor beneran, jadi seolah lukisan 3D.
Lokasi mural ini bukan di jalan utama, tetapi di Lebuh Ah Quee. Jadi kita harus lebih peka menelusuri jalan-jalan yang kecil diantara dinding yang sudah agak rusak.
Kami yang kalau kemana-mana berdua, kalau berfoto gantian, mendapatkan kemurahan hati Bapak penjual postcard, memotret aksi kami berdua.



bergaya di depan Penang Street Art
Endingnya, ya saya beli lah paket postcardnya, kebetulan saya juga koleksi kartu pos.


Jalan lagi sambil menyusuri deretan rumah toko bergaya Arsitektur Tiongkok, menemukan lukisan lain, yaitu “Little Girl on a Bicycle”.
Di mural ini menggambarkan dua anak perempuan berboncengan, dan tepat di dinding itu diletakkan sepeda jengki (Yankee) jadul, sehingga seolah-olah mereka mengendarai sepeda.
Jika dilihat sekilas, lukisan ini nampak hidup, karena warnanya menyatu dengan dinding dan lingkungan sekitar, serta ukuran sesuai dengan anak seusianya. Ekspresi adik kecil yang dibonceng dapet banget sih.
Sayangnya waktu kami ke sana tahun 2019 sudah agak pudar dimakan waktu.

Karya ini bisa ditemukan di Lebuh Armenian, atau persimpangan jalan antara Lebuh Pantai dan Lebuh Armenian. Untuk lebih tepatnya bisa mengikuti koordinat GPS ini (5.41468, 100.33823).
“Lebuh” dalam bahasa Malaysia artinya jalan.
Penutup
Tak terasa blusukan pagi hari cuma sejam, kalau di Penang tuh, pukul 09:00 udah keringetan. Tambah lagi perut mulai berbunyi, jadi kami jalan menuju ke area Masjid Kapitan Keling. Di mana pun di sekitar masjid biasanya mudah diperoleh makanan halal.
Berbeda waktu kami walking tour di area Pecinan, sulit mencari makanan halal.


walking tour di area Masjid Kapitan Keling
Akhirnya kami menemukan kedai teh tarik yang juga menjual roti Canai. Lumayan lah mengisi perut sambil suami janjian dengan kawan dosen Malaysia yang akan menjemput.

Pagi itu kami hanya sempat menyambangi beberapa saja karya Penang Street Art dari puluhan yang tersebar.
Update kondisi karya-karya yang memudar tersebut, di akhir tahun 2024 Zacharevic kembali ke Penang untuk merenovasi karyanya yang dimakan waktu. Setelah 12 tahun keberadaan lukisannya, sekarang bisa dinikmati lagi dengan kondisi seperti awal dilukis.


Malah di Instagramnya dibuat animasi digitalnya cek ke sini…
https://www.instagram.com/p/DEhJZDiz81K/?hl=en
Sumber:
https://www.medisata.com/wisata/mural-street-art-penang
https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/four-iconic-penang-murals-restored-by-lithuanian-artist-ernest-zacharevic-12-years-later

Tinggalkan komentar