Jalan-jalan di Kampung Warna-warni Jodipan, Malang

Bersambang ke suatu kota, tidak lengkap apabila tidak sekalian walking tour, alias tur jalan kaki di suatu kawasan kota. Kali ini di Malang saya mendaftar di IG @malanggoodguide, sebuah komunitas jalan-jalan di kota Malang. Jadwal pas saya kebetulan di kota Malang, rutenya jalan-jalan di Kampung Warna-warni Jodipan. Kampung ini selalu terlihat bila kalian naik kereta api Malabar, rute Bandung-Malang atau sebaliknya. Penasaran, saya kan pengen juga jelajah ke sini.

Sejarah Kampung Warna-warni Jodipan

Membaca informasi dari media online, Kampung Warna-warni Jodipan (KWJ) di Malang memiliki sejarah yang unik karena perubahannya tidak berawal dari proyek pemerintah, melainkan dari sebuah tugas kuliah.

Kondisi Awal: Kampung Kumuh di Bantaran Sungai

Sebelum tahun 2016, Jodipan hanyalah sebuah kampung padat penduduk yang kumuh di bantaran Sungai Brantas. Karena posisinya yang berada di bawah jembatan rel kereta api, kampung ini terlihat kumal, temboknya berlumut, dan memiliki masalah sanitasi yang buruk.

Warga sering membuang sampah langsung ke sungai, dan Jodipan masuk dalam daftar kawasan pemukiman kumuh yang rencananya akan direlokasi oleh pemerintah kota.

Inisiasi Mahasiswa (Mei 2016)

Transformasi ini bermula dari delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok praktikum bernama Guyspro.

Mereka mendapatkan tugas kuliah untuk membuat kampanye sosial. Terinspirasi dari Favelas di Brasil yang berwarna-warni, mereka mengusulkan proyek untuk mengecat rumah-rumah di Jodipan guna mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli lingkungan (tidak buang sampah ke sungai) sekaligus menghilangkan kesan kumuh.

Kolaborasi dengan Perusahaan Cat

Para mahasiswa ini kemudian menggandeng sebuah perusahaan cat lokal di Malang (PT Indana Paint) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan tersebut menyumbangkan ribuan liter cat berbagai warna, sementara pengerjaannya dilakukan secara gotong royong oleh:

  • Warga lokal Jodipan
  • Personel TNI dari Korem 083 Baladhika Jaya
  • Para mahasiswa relawan

Menjadi Viral dan Destinasi Wisata

Setelah pengecatan selesai, foto-foto kampung yang berwarna mencolok ini mendadak viral di media sosial. Wisatawan mulai berdatangan untuk berfoto di gang-gang sempitnya. Melihat potensi ekonomi tersebut, warga mulai menata kampung lebih serius:

September 2017, diresmikanlah Jembatan Kaca Ngalam Indonesia, sebuah jembatan gantung berlantai kaca yang menghubungkan Kampung Warna-Warni dengan Kampung Tridi di seberangnya.

Warga mulai membuka warung, menyediakan spot foto kreatif, dan mengelola parkir secara mandiri.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Transformasi Jodipan dianggap sebagai salah satu contoh tersukses gentrifikasi positif di Indonesia:

  • Ekonomi: Pendapatan warga meningkat dari tiket masuk dan usaha mikro.
  • Lingkungan: Kebiasaan membuang sampah ke sungai berkurang drastis karena warga malu kampung indahnya kotor.
  • Status: Pemerintah Kota Malang membatalkan rencana relokasi dan justru menjadikan kawasan ini sebagai ikon wisata resmi kota.

Pengalaman Jalan-jalan di Kampung Warna-warni Jodipan

titik kumpul Stasiun Kota Malang

Menurut jadwal di IG @malanggoodguide (jangan keliru dengan @mlg.goodguide, karena akun ini sudah diretas kripto), walking tour dimulai pukul 15:00.
Saya berangkat dari sebuah Kedai Kopi yang ada kegiatan membatik, langsung cus naik taxi online ke Stasiun Kota Malang, yang ditetapkan sebagai titik kumpul.

Tunggu punya tunggu dan kontak-kontakan dengan admin komunitas, saya pun diberi tahu ciri-ciri guide yang akan mendampingi jalan-jalan. Ternyata pesertanya hanya saya sendirian dong.
Entah karena hari kerja, sudah sore panas (Malang di bulan Mei waktu itu cukup panas cuacanya), atau bisa jadi memang kurang menarik acaranya.

Mbak Cita
bersama komunitas Malang Good Guide

Tapi saya salut dengan penyelenggara walking tour, karena the show must go on. Mbak Cita sebagai guide, engga masalah, tetap mendampingi dan menjelaskan objek-objek sepanjang jalan menuju Kampung Warna-warni Jodipan.

Kampung Warna-warna Jodipan, kalau di peta terletak di selatan Kota Malang, jadi kami jalan kaki saja santai ke sana.

Buk Gluduk

Bug Gluduk

Kota Malang mirip dengan kota Bandung yang ada sentuhan masterplan zaman Hindia Belanda. Oleh sebab itu banyak sisa peninggalan bangunan lama dengan gaya arsitektur khas.

Salah satunya yang cukup khas dan menjadi salah satu ikon di kota ini adalah Buk Gluduk. Buk artinya jembatan, yang berfungsi sebagai jembatan kereta api.

Diperkirakan dibangun tahun 1879, jembatan kereta api ini dibangun sebelum atau bersamaan dengan Stasiun Kotalama yang merupakan stasiun tertua di Malang. Sejak zaman itu, Malang sendiri sudah punya jalur rel kereta api yang menghubungkan kota ini dengan daerah-daerah lain di sebelah utara seperti Pasuruan dan Surabaya, serta wilayah barat seperti Blitar dan Kediri.

Dinamakan Buk Gludug, karena kalau ada kereta api melalui jembatan, akan berbunyi “gluduk-gluduk-gluduk”, karena bantalan rel yang terbuat dari kayu.

Kampung Biru AREMA

rumah-rumah serba biru

Kami pun melanjutkan jalan kaki menyusuri jalan Gatot Subroto dan di sebelah kiri, agak di bawah terbentang rumah-rumah yang dinding dan atapnya berwarna biru cerah.

Inilah Kampung Biru AREMA.
Kampung Biru Arema merupakan simbol cinta dan loyalitas warga Malang terhadap klub sepak bola kebanggaan mereka, Arema FC.

Seluruh bangunan di kampung ini dicat dalam nuansa biru khas Arema, menciptakan kesan yang sangat kuat dan identitas visual yang unik. Kampung ini juga sering disebut sebagai “rumah kedua” bagi para Aremania, sebutan untuk para pendukung klub tersebut.
Setiap sudut kampung dihiasi dengan mural dan grafiti bertema Arema FC, seperti logo klub, pemain legendaris, hingga yel-yel kebanggaan suporter.

Kami hanya berfoto-foto dari tepi jalan, tidak turun ke kampung.

Kampung Warna-warni Jodipan

kampung warna-warni

Tak berapa lama kami pun sampai di seberang gerbang masuk Kampung Warna-warni Jodipan. Setelah menyeberang dengan hati-hati, mbak Cita langsung mengarahkan untuk melapor ke petugas yang stand-by.

Dari atas jembatan, terlihat dua area kampung yang sama-sama dinding dan atapnya warna-warni.

Untuk bisa berjalan-jalan di kampung, tiket masuk Rp5.000, dan saya mendapatkan stiker bergambarkan suasana kampung.

Saya tidak duga sebelumnya bahwa untuk berjalan-jalan di kawasan ini harus turun-naik tangga yang stepnya tidak beraturan.
Tentu saja, kampung kota ini kan terletak di bantaran Sungai Brantas, yang secara kontur berada di lembah.

hiasan di kampung warna-warni dan lini masa sejarah

Di beberapa jalan setapak dihias khas penduduk setempat. Antar lain, payung warna-warni, tangga warna-warni, pokoknya berkesan Instagramable.
Sesampainya di bantaran sungai, ada pelataran sedikit untuk orang duduk-duduk menikmati camilan pisang goreng dan menanti turunnya senja.
Di dinding terdapat papan infografis yang menjelaskan lini masa direnovasinya kawasan ini.

tangga, jembatan kaca, dan foto dulu

Lanjut lagi ke spot terakhir yaitu Kampung TRIDI

Kampung TRIDI

Kampung TRIDI terletak di seberang utara Kampung Jodipan, dan untuk menyerangi Sungai Brantas, kami harus naik ke jembatan kaca. Tangga ke atas lumayan tinggi sih…
Berhubung kagok sudah sampai sini, ya sudah naik pelan-pelan, lalu foto-foto deh di atas jembatan.

turun ke kampung tridi, souvenir, dan rumah sewa

Dinamakan Kampung TRIDI, karena di sini banyak sekali spot-spot foto lukisan 3 dimensi. Lukisan – lukisan tridi ini di tuangkan dalam dinding-dinding rumah warga dan jalan-jalannya.

Sesampainya di bawah, kami harus membeli tiket Rp5.000,- juga dan mendapatkan cederamata berupa gantungan kunci.

Tetapi ketika saya di sana, sebetulnya tidak banyak lukisan yang menonjolkan kesan 3D tersebut. Hasil lukisannya terkesan lukisan mural dan tidak menampilkan konsep tertentu.

lukisan mural kampung 3D

Penutup

Setelah cukup berjalan-jalan di area Kampung TRIDI, kami pun sampai di pintu ke luar kampung, yang munculnya ternyata tak jauh dari Bug Gludug.

Nah, itulah jalan-jalan saya bersama komunitas Malang Good Guide bersambang ke Kampung Warna-warni Jodipan. Mengucapkan salam perpisahan dengan Mbak Cita yang ceria dan saling mendoakan satu sama lain.
Saya pun memesan ojek online untuk kembali ke hotel.

lihatdisini berita populer dulu hingga sekarang, sekitar wisata, tempat bersejarah, kuliner, gaya hidup, edukasi, kesehatan, dan review produk

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar