Perjalanan ke Sumenep di Pulau Madura merupakan rangkaian perjalanan grup Caraka yang merupakan bagian dari persiapan penulisan buku tentang sebuah tempat. Kami ber-20 pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia janjian berkumpul di Surabaya kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Sumenep.
Waktu kami jelajah Masjid Jami Sumenep, dari atas gerbang view ke timur, tampaklah Alun-alun Kota Sumenep, yang bernama Taman Adipura Sumenep.
Melintasi Taman Adipura Sumenep yang ada di timur masjid kita akan berkunjung ke Kompleks Keraton Sumenep.
Sama halnya dengan beberapa kota di pulau Jawa, letak masjid menjadi satu kesatuan dengan alun-alun dan keraton/rumah Bupati. Contohnya adalah di Solo, Yogyakarta, Demak, Bandung, dan lain-lain.


Sejarah Keraton Sumenep
Sumenep sendiri tidak berupa kerajaan atau kesultanan, tetapi setingkat Kadipaten, sehingga tidak ada Raja atau Sultan. Tampuk kepemimpinan tertinggi waktu itu adalah Adipati.
Didirikan pada tahun 1269 oleh seorang kerabat dari Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singhasari bernama Arya Wiraraja, wilayah ini berada di bawah pengawasan langsung Kerajaan Singhasari kemudian dan selanjutnya, Kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1559, pada masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Ario Kanduruwan, wilayah yang terletak di Madura Timur ini berada pada pengaruh Kesultanan Demak dan baru pada pemerintahan Pangeran Lor II yang berkuasa wilayah Kadipaten Sumenep berada di bawah pengawasan langsung Kesultanan Mataram.
Keraton Sumenep adalah tempat kediaman resmi para Adipati dan dulunya juga tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Sejak pemerintahan Republik Indonesia, Sumenep merupakan Kabupaten yang ada dibawah Provinsi Jawa Timur.
Rumah Bupati Sumenep letaknya ada di belakang Kompleks Keraton Sumenep.
Keraton ini sekarang menjadi objek wisata yang satu paket kunjungan dengan Masjid Jami Sumenep, Taman Sare (Taman Sari), dan Makam Asta Tinggi (makam keluarga keraton Sumenep). Makam Asta Tinggi terletak agak di luar kota Sumenep/
Untuk masuk dan mengamati Kompleks Keraton Sumenep kita melalui Gerbang yang bernama Labhang Mesem. Pintu gerbang ini menghadap selatan dan terlihat sangat monumental, pada bagian atasnya terdapat sebuah loteng, digunakan untuk memantau segala aktivitas yang berlangsung dalam lingkungan keraton. Ada bentuk segitiga di bagian atap yang mengingatkan kita pada bangunan zaman Hindia Belanda.
Memang pembangunan Keraton Sumenep mengalami berkali tahap pembangunan dan Labhang Mesem ini sendiri dibangun tahun 1781 di masa pemerintahan Hindia Belanda.


view ke masjid dan memasuki gerbang keraton
Bangunan-bangunan di Keraton Sumenep
Bangunan Kompleks Karaton sendiri terdiri dari banyak masa, tidak dibangun secara bersamaan tetapi di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya. Seperti yang sering kita baca dari berbagai sumber, pimpinan daerah zaman dulu pengalihan tampuk kepemimpinan (suksesi) sering tidak berjalan lancar.
Perebutan tahta karena adanya beberapa istri dan putra menjadi penyebab utama percekcokan ini.
Bangunan Kompleks Karaton Sumenep sendiri terdiri dari banyak masa, tidak dibangun secara bersamaan tetapi di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya.
Keraton Sumenep terdiri dari beberapa bagian penting, diantaranya pendopo, mandiyoso, dalem, panyeppen, gedung koneng, gedung loteng, taman sare, labak mesem dan tembok yang kesemuanya memiliki tata letak dan fungsi ruangan masing-masing.
Pendopo

Pendopo Karaton Sumenep dibangun pada masa Panembahan Sumolo. Bentuk pendopo seperti limasan sinom, yang lazim terdapat pada bangunan karaton di Jawa.
Pendopo ini ditopang soko guru (tiang utama) sebanyak 10 buah. Terdapat satu bangunan kecil di depan pendopo. Bangunan di depan pendopo yang dimaksud, di Jawa disebut kuncungan.
Mandiyoso Karaton

Secara fisik, mandiyoso adalah koridor penghubung antara Pendopo dan Ndalem Karaton.
Mandiyoso Karaton merupakan bangunan terbuka, yang memanjang arah utara ke selatan. Tiang-tiang bangunan berupa pilar bata berbentuk persegi panjang, diberi hiasan gaya Ionic (Yunani). Langit-langit (plafon) dan konstruksi atap dari kayu jati.
Ndalem Karaton

Ndalem Karaton merupakan bangunan inti Karaton Sumenep. Bentuknya memanjang arah timur ke barat, dan menghadap ke selatan. Bangunan ini berlantai tiga yang merupakan akulturasi arsitektur Jawa, Tionghoa dan Eropa. Atap bangunannya berbentuk kerucut, yang semakin ke atas mirip cerobong asap.
Selain lantai dasar, bangunan ndalem terdiri dari 3 lantai. Lantai 2 digunakan untuk pingitan putri-putri raja. Lantai 3 digunakan para raja untuk menyepi, dan tidak semua orang bisa masuk pada bagian lantai 3 tersebut.


salah satu kamar tidur dan tangga ke atas
Taman Sare
Taman Sare (Taman Sari) berupa kolam sumber air berbentuk kotak terletak berpagar tembok tinggi, di sebelah Timur Keraton. Untuk turun ke kolam tersebut terdapat tiga pintu yang mempunyai beberapa penunjuk atau kepercayaan setempat.
- Pintu pertama, dipercaya dapat membuat kita terlihat awet muda, serta dimudahkan dalam mendapatkan jodoh dan keturunan.
- Pintu kedua, dipercaya dapat meningkatkan karir atau jabatan seseorang.
- Pintu ketiga, dipercaya dapat meningkatkan kereligiusan dan keimanan kita.

Tidak ada bukti atau petunjuk tertulis bahwa dulunya Taman Sari merupakan pemandian putri Keraton seperti halnya Taman Sari di Jawa.
Melihat visualisasi air kolam, waktu itu di antara kami tidak ada yang berani turun sekedar membasuh melalui berbagai pintu tersebut.
Kantor Koneng



Kantor Koneng dari bahasa Belanda : koninglijk=kantor raja/adipati
Keraton Sumenep mencapai masa keemasan pada saat Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I memerintah. Terbukti dengan adanya pembangunan beberapa bagian keraton, termasuk pembangunan sebuah kantor yang diberi nama Kantor Koneng.
Saat ini bangunan Kantor Koneng difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai benda peninggalan Karaton Sumenep.
Penutup

Berkunjung ke suatu tempat di Indonesia memang sarat dengan kisah sejarah dan tinggalan adat serta budaya.
Gegap gempita berbagai pengaruh budaya pop dari luar negeri, baik dari Barat maupun Asia (Korea), adanya sekelompok saudara sebangsa yang mempertahankan warisan lelulur tersebut perlu kita acungi jempol.
Perlu dukungan dari kita semua agar tinggalan sejarah, berupa artefak arsitektur maupun warisan tak benda tetap lestari tak lekang dimakan zaman.


Tinggalkan komentar