Ernestine tentang kisah perjuangan melalui kuliner autentik, sarat kenangan, dan penuh ketekunan.
Begitu tiba di depan sebuah bangunan di Jalan Ganesha No. 4, Bandung, masih terlihat bentuk aslinya berupa rumah tinggal kuno dengan atap yang lebih tinggi daripada rumah-rumah zaman sekarang. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, di sini ada restoran bernama “Warung Pasta” yang terkenal karena menjual aneka pasta.

Selasa siang itu, Mama Bara mengajak Bara dan saya untuk lunch date, ke restoran Ernestine. Sebelumnya mereka berdua sudah pernah ke sini, dan mereview dengan baik hidangan yang mereka santap waktu itu. Berkat review positifnya, Mama Bara mendapatkan komplimen mencicipi menu baru dari pemilik restoran.
Di dinding depan terpahat nama “ERNESTINE” dengan tipografi bergaya tahun 1930-an. Nama perempuan lazim dijumpai pada rumah-rumah yang dulu dimiliki oleh orang Belanda di Kota Bandung. Misalnya Dietje, Gerardine, Anna, dan lain-lain. Konon, nama-nama tersebut adalah nama anak perempuan pertama sang pemilik rumah.
Setelah melalui teras depan, kami tiba di ruangan mirip lobi. Terdapat lukisan besar di tengah, lalu rak-rak di kiri-kanannya. Di dinding tergantung pigura-pigura yang membingkai secarik kertas bertuliskan tangan yang sangat rapi.

Mama Bara menuju ruangan di sebelah kanan, dengan etalase menarik di dalamnya tertata kue-kue warna-warni yang terlihat menggugah selera. Ada juga meja yang tertata macam-macam kue Nusantara.
Bagi pengunjung pemula, restoran yang awalnya terlihat biasa ini, akan menggugah rasa ingin tahu setelah membaca buku menu di samping kasir.


Pada buku menu tertulis:
ERNESTINE – Surinamese – inspired Restaurant
Ernestine is a modern Surinamese restaurant from a grandmother-granddaughter duo, Oma Phonie and Anne. Oma Phonie was born and grew up in Suriname before fleeing to Indonesia in search of a better future.
Ernestine tells a story of survival, forced migration, identity crisis, and displaced communities expressed through honest foods, memories, and grit.
Free Palestine
Perjalanan Ernestine Restaurant Bandung
Sebelum mulai memilih menu, mari berkisah dulu tentang Ernestine Restaurant Bandung ini.
Mama Bara sudah lama kasih bocoran, kalau restoran ini menyajikan kuliner fusion, campuran antara Nusantara dan Suriname.
Konon, pemilik restoran ini, bernama Anne, berkolaborasi dengan Eyang Putrinya, yang lahir dan besar di Suriname dan akhirnya menetap di Indonesia.
Suriname merupakan sebuah negara di benua utara Amerika Selatan, bertetangga dengan Venezuela, Guyana, Brazil, dll. Di zaman kolonial, antara tahun 1890 hingga 1939, pemerintah Hindia Belanda membawa orang Jawa ke Suriname, untuk dipekerjakan sebagai buruh kontrak. Mungkin sama halnya di zaman itu ratusan orang Boor dibawa Belanda untuk menjadi buruh perkebunan di Lembang.
Sampai sekarang, keturunan suku Jawa merupakan salah satu etnis terbesar di Suriname dan bahasa Jawa masih digunakan secara luas di sana.
Cita Rasa Hidangan Suriname, perpaduan Belanda-Jawa
Bocoran lain dari Mama Bara, karbohidrat di sini, pilihannya nasi, olahan singkong, dan kentang. Oleh sebab itu, ketika memilih menu, lengkap diberi penjelasan, bahan karbohidrat dan proteinnya.
Setelah berdiskusi dan dengan cepat membayangkan hasil jadinya, karena di buku menu berupa sketsa saja, tidak ada fotonya. Maka saya memilih Pappardelle Empal Gentong Gluten-free (pappardelle served with empal gentong sauce, kecap matahari, & kerupuk kulit), seharga Rp52.000,-.
Pappardelle adalah sejenis pasta berbentuk pipih seperti pita, yang terbuat dari olahan tepung singkong. Itu sebabnya gluten-free.
Mama Bara sudah pernah mencicipi Lasagna Gluten-free, pasta sheets with kemangi-tomato sauce, oncom, & pickled leunca. Karena saya kurang suka oncom, jadi skip, tidak memilih menu ini.
Menu baru yang ditawarkan oleh pemilik karena Mama Bara publish di medsos, adalah Sup Buntut Brenebonen, free. Sampai pulang, kami lupa tanya, berapa harga menu ini.
Awalnya kami bingung memilihkan menu untuk Bara. Sebagai anak spesial, Bara favorit ayam, mostly nasi atau kentang, dan tidak suka spicy.
Setelah memilih-milih lagi, akhirnya kami pesan Rijst Omelette (Steamed rice omelette with tomato ragout sauce), seharga Rp37.000,-. Kami meminta sausnya dipisah saja. Bayangan kami ini mah nasi bungkus telur dadar.
Untuk minumannya, sebetulnya kami mendapatkan free flow teh tawar hangat. Tapi mau pilih-pilih minuman deh supaya lengkap. Ada nama-nama minuman yang asing. Setiap kami tanya tiap nama di daftar menu, Teteh staf menjelaskan dengan ramah dan sabar.
Akhirnya saya memilih Teh Kecombrang Stroberi (Fermented torch ginger and strawberry, cold brew tea) seharga Rp35.000,-. Menurut staf, tehnya difermentasikan dulu seminggu.
Sedangkan Mama Bara memilih Kopi Susu Nipah (Espresso, fresh milk, gula nipah/mangrove sugar), seharga Rp25.000,-.
Tadinya mau memilih dessert sekalian yang dipajang di lemari etalase. Sepertinya Mousse Markisa, seharga Rp40.000,- enak banget. Kebayangnya kuenya creamy, manisnya lembut, dan ada rasa segar selai blueberry di atasnya. Apalagi kue-kue yang dipajang itu semuanya gluten-free. Kayaknya enak semua deh…
Tapi, karena pikir-pikir dulu, takut terlalu banyak yang dipesan. Akhirnya memutuskan nanti saja, pesan sesudah makan.

Ternyata keputusan yang salah.
Mama Bara kan mendapatkan komplimen, menu utama free, termasuk hidangan yang saya pilih. Jadi kami hanya membayar menu Bara, minuman, dan kue-kue tradisional, serta mendapat diskon 10%.
Pas belakangan pesan kue, harganya normal, seperti yang tertera di etalase. Tau gitu kan, sekalian pesan, sekalian dapat diskon… 😀
Kami memilih meja di sebelah kiri ruangan dekat jendela.
Secara keseluruhan, meja tamu tidak banyak. Hanya satu meja panjang agak di dalam, untuk 6 kursi.
Ada 4 meja bundar, untuk 2-3 orang. Dan 2 meja panjang untuk 4 orang.
Di kanan rumah Ernestine ada taman untuk meja outdoor. Itu pun tidak banyak.
Siang itu hampir semua meja terisi. Letaknya yang tidak jauh dari Kampus ITB, sepertinya cukup favorit untuk mampir makan siang yang cukup cozy dan tidak berisik.
Pengalaman Akan Rasa Autentik
Sambil menunggu, kami mencicipi kue-kue tradisional yang tadi kami pilih.
Tak lama datang minuman yang kami pesan.

Itu ya, Teh Kecombrang Stroberi, enak banget loh. Saya titil-titil kecombrang yang ditabur di atas es. Manisnya lembut, stroberinya hampir tidak terasa, tapi ada butir-butir stroberi. Lebih kuat rasa kecombrangnya. Pokoknya enak lah…

Saya cicip kopinya Mama Bara, enak juga.
Kemudian tiba hidangan yang saya pilih, Pappardelle Empal Gentong. Bentukannya pasta pita disiram kuah Empal Gentong, lalu diberi taburan daging kering dan kerupuk kulit. Kuahnya lekoh sedikit creamy, agak asin buat saya. Pengalaman baru sih…

Tak lama dihidangkan menu komplimen, Sup Buntut Bronebonen plus nasi. Semangkuk penuh buntut yang dagingnya terlihat empuk, irisan wortel dan kentang, irisan tomat cherry, lalu kacang merah (bronebonen), plus taburan sledri. Uniknya, ada teko kaca berisi kuah sup. Kata staf, ini adalah kuah rempah, yang kemudian disiram di atasnya daging buntut.
Plating nasi di atas piring yang bagus banget dan diberi taburan bawang merah goreng.

Seperti biasa, foto-foto makanan dulu.
Sambil kami mulai mencicipi hidangan masing-masing, masih menunggu hidangan Bara.
Seperti dugaan, Rijst Omelette adalah nasi bungkus telur dadar yang diberi taburan keju. Tapi dadarnya tebel banget, nasinya jauh di dalam.
Pas kami cicipi, fluffy banget loh dadarnya, lembut dan asinnya pas. Sesuai request, sausnya dipisah, merupakan irisan tomat yang agak hancur dan sedikit spicy.
Menu ini cocok untuk anak-anak dan Bara habis sepiring.
Begitu lembutnya dadarnya, dalam perjalanan pulang, masih kami bahas. Gimana caranya bikin dadar bisa se-fluffy itu?

Penutup
Lunch date bareng anak perempuan seperti ini jarang banget kami lakukan, di tengah kesibukan masing-masing. Masih ingin chit-chat lebih banyak, apalagi hidangan juga sudah licin tandas, kami pun memutuskan untuk memesan dessert kue yang diincar sedari tadi, Mousse Markisa.

Ternyata benar, kuenya enak banget, sepertinya yang dibayangkan sebelumnya. Creamy, lembut, dan segar.
Sebelum pulang, saya masih menyempatkan diri untuk foto-foto ruangan. Setelah didekati, pigura yang membingkai secarik kertas, ternyata adalah resep tulisan tangan Oma Ponie. Tulisannya amat rapi, khas tulisan tangan Eyang masa lalu, mirip tulisan tangan Ibu Mertua saya.
Tak heran, Oma Ponie, sekarang usianya 90 tahun. Kalau cek IG @ernestine.restaurant, Oma Ponie masih terlihat segar.



rak memorabilia dan resep tulisan tangan
Adapun foto perempuan rupawan di dinding atas, ternyata adalah seseorang bernama Ernestine di masa mudanya yang pernah tinggal di Bandung di masa pemerintahan Hindia Belanda. Foto itu diperoleh pemilik restoran dari keturunan Oma Ernestine yang tinggal di Amerika Serikat. Belum ada penjelasan valid, apakah Ernestine dulunya memang tinggal di rumah Jalan Ganesha no 4 ini.

Hari ini makan siangnya di Ernestine Restaurant Bandung sukses. Selain belajar latar belakang kuliner, saya juga menelisik sejarah rumah Ernestine. Perjalanan Ernestine Restaurant yang awalnya adalah bakery bernama Seroja, milik Anna, sang cucu.
Kapan-kapan harus coba lagi nih, restoran lainnya yang juga punya kisah menarik.



Tinggalkan komentar